Kritik Roy Suryo terhadap Situs Juwono Sudarsono

Beberapa hari yang lalu, harian Jawa Pos memuat sebuah artikel mengenai pendapat Roy Suryo tentang situs pribadi Bapak Juwono Sudarsono. Artikel ini saya baca untuk pertama kali ketika saya makan di warung makan langganan saya. Artikel ini berada disisi kiri atas halaman depan. Ketika membaca tulisan ini, saya berpikir, “Ah, dia (Roy Suryo) lagi…”.

Setelah membaca keseluruhan artikel tersebut, saya melihat bahwa artikel tersebut memuat sebuah komentar yang sangat dangkal. Lebih hebatnya lagi, yang mengemukakan pendapat adalah seorang yang oleh media mendapat predikat sebagai pakar telematika. Menurut saya, komentar semacam ini hanyalah komentar biasa. Kalau memang benar-benar seorang ahli (yang memahami apa yang dibicarakan), saya rasa tidak akan muncul pendapat semacam ini.

Dalam berita tersebut, Kepala Biro Humas Departemen Pertahanan Brigjen Edy Butar Butar menyampaikan bahwa:

Pak Menhan mengelola dan menulis sendiri situs itu, kadang-kadang dibantu putranya. Namun, isinya juga ada hal-hal yang berhubungan dengan kebijakan strategis pertahanan Indonesia. Sebab, beliau kan punya pemahaman yang sangat baik tentang isu-isu itu

Beliau (Brigjen Edy Butar Butar) juga menambahkan bahwa secara institusi, website itu tidak terkait dengan Biro Humas Dephan. Nah, jadi sudah jelas-jelas, bahwa apa yang ada disitus tersebut adalah sebuah pendapat dalam sebuah situs pribadi.

Roy Suryo mengatakan bahwa:

Kalau belakangnya pakai com, itu perusahaan, ada kepentingan bisnis atau komersialnya. Karena itulah, kita tidak menggunakan ekstensi com untuk website presiden.

Roy Suryo juga memberikan saran agar Menteri Komunikasi dan Informasi Sofyan Djalil untuk mengingatkan koleganya (Bapak Juwono Sudarsono).

Menurut Roy, dalam dunia maya, sudah ada klasifikasi di balik pemilihan domain. Dijelaskan, jika website didesain resmi untuk informasi kenegaraan, menggunakan ekstensi domain go.id, misalnya www. deplu.go.id yang dipakai Departemen Luar Negeri. Untuk kepentingan pendidikan, lazimnya menggunakan ekstensi domain edu di belakang nama situs. “Jangan salah kaprah,” tegasnya.

Artikel tersebut ditutup dengan sebuah paragraf mengenai apa yang disampaikan Roy Suryo:

Pria bergelar Kanjeng Raden Mas Tumenggung itu juga mengkritik model blog yang digunakan dalam situs Menhan. “Itu kan tidak resmi, sepatutnya sebagai pejabat publik harus menampilkan citra yang baik, termasuk dalam berkomunikasi melalui internet.”

Marilah kita luangkan waktu sejenak untuk tertawa untuk selingan hiburan ini!

Lucu bagian I

Sudah dijelaskan bahwa: “secara institusi, website itu tidak terkait dengan Biro Humas Dephan”. Dalam hal ini, saya menginterpretasikan bahwa kata ‘terkait’ sebagai ‘mewakili’. Jadi, apa yang disampaikan oleh beliau Bapak Juwono Sudarsono merupakan sebuah opini dari seorang warga negara. Dan, saat ini beliau menjabat sebagai salah satu yang duduk dalam pemerintahan. JIKA suatu saat beliau tidak duduk lagi sebagai Menhan, dan beliau tetap memberikan pandangan beliau mengenai bidang yang beliau kuasai, inipun bisa jadi tetap relevan. Pak Juwono sekarang sudah memiliki media sendiri untuk menyampaikan pandangan beliau, dan pandangan sebagai salah satu warga negara. Dan ini sah-sah saja kan?

Lucu bagian II

Kalau belakangnya pakai com, itu perusahaan, ada kepentingan bisnis atau komersialnya. Karena itulah, kita tidak menggunakan ekstensi com untuk website presiden.

Ada yang salah dengan pemakaian TLD .com? Saya rasa tidak. Kalau dikaitkan dengan masalah ‘identitas’ pribadi (lebih spesifik lagi di Indonesia), mengapa situs Presiden Susilo Bambang Yudhoyono justru menggunakan domain .info?

Kalau saya mencoba melihat mengenai alasan mengapa Situs Juwono Sudarsono menggunakan domain .com, saya mendapatkan beberapa perkiraan alasan. Ingat, ini cuma perkiraan saja, hanya Pak Juwono Sudarsono dan pihak yang terkait dalam pembuatan situs tersebut yang mungkin punya jawaban yang paling tepat.

  1. JuwonoSudarsono.com masih available.
  2. Mengelola domain .COM (dan domain lain, selain .ID), lebih mudah. Bahkan proses registrasi juga lebih mudah. Dan bahkan, termasuk sangat murah. Mudah, cepat, dan murah. Paling tidak sepanjang yang saya rasakan, mendaftar domain .ID lebih susah.
  3. Pak Juwono Sudarsono tidak akan selamanya menjadi Menteri. Jika beliau terus melanjutkan aktifitas menulis melalui media jurnal seperti ini, dan menggunakan domain .GO.ID (misal dibawah situs utama Departemen Pertahanan), bagaimana selanjutnya?
  4. Kembali ke poin yang sebelumnya, ini adalah situs pribadi.

Lucu bagian III

Apakah yang menjadi dasar bahwa media blog bukanlah sebuah media yang kurang tepat. Dan apa hubungan antara memiliki sebuah jurnal pribadi (blog) dengan citra yang baik?

Sampai dengan saat ini, sepanjang saya membaca apa yang dituliskan oleh Bapak Juwono Sudarsono, saya TIDAK menemukan hal yang tidak baik. Justru sebaliknya. Saya memandang bahwa ini adalah media yang sangat positif. Kalau memang ada media yang lebih baik atau lebih sesuai untuk memfasilitasi apa yang ingin dicapai atau disampaikan oleh beliau, bentuk media yang seperti apa? Dan, media yang baik tersebut, baik dari sisi mana? Roy Suryo, if you can show me what kind of media Mr. Juwono Sudarsono (and you can guarantee that it will be better than what Mr. Juwono Sudarsono has right now), I will pass one million rupiah to your bank account. This is a serious deal.

Citra yang baik muncul dari apa yang terbaca oleh publik. Dan semua kembali ke setiap individu, belum tentu oleh medianya. Inilah salah satu hal yang saya percayai, paling tidak sampai saat ini.

Mengenai istilah resmi dan tidak resmi, apa yang menjadi dasar bahwa situs (dan tulisan) Juwono Sudarsono adalah tidak resmi? Apakah karena menggunakan media blog, dimana anak kecilpun bisa memilikinya, bahkan secara gratis? Jika dalam situs tersebut disebutkan bahwa media itu adalah resmi, dan kalau menggunakan bahwa resmi berarti dibuat dengan sepengetahuan pemilik, mewakili apa yang ingin dicapai dan disampaikan pemilik media tersebut, saya rasa ini resmi.

Melalui situs pribadinya, Bapak Juwono Sudarsono membuka kesempatan kepada pembacanya untuk memberikan komentar terhadap apa yang disampaikannya. Ini salah satu bukti bahwa ada peluang untuk terjadinya komunikasi dua arah. Bahkan, beliau juga memberikan tanggapan terhadap apa yang disampaikan oleh pengunjung yang memberikan komentar.

Catatan: Tulisan diatas adalah merupakan pendapat pribadi saya. Saya tidak terkait dengan situs Juwono Sudarsono.