Dua bulan setelah gempa
Minggu yang lalu, saya berkunjung ke rumah saya yang ada di Bantul. Banyak hal yang berubah… paling tidak untuk dua bulan ini. Kalau dilihat dari perubahan fisik, tentu saja ini benar-benar berubah. Bangunan tidak ada lagi. Tetapi halaman (tempat lapang), sekarang menjadi lebih luas.
Kemarin sempat pula melakukan penghitungan sederhana. Menghitung luas bangunan yang roboh, menghitung properti yang masih tersisa, dan lainnya. Ternyata, masih banyak juga yang tersisa dan bisa dimanfaatkan.
Proses membersihkan puing-puing kemarin memang memakan waktu lebih lama, karena ingin menyelamatkan beberapa hal, misalnya batu bata, genting, kayu, dan lain-lain. Kalau misalnya sisa bangunan yang masih berdiri asal dirobohkan saja, mungkin jumlah batu bata, genteng dan lainnya tidak sebanyak yang ada sekarang.
Untuk genteng, setelah dikumpulkan, ternyata masih ada sekitar 2.500 buah. Batu-bata juga banyak, jumlahnya sepertinya ribuan. Kerangka pintu dan jendela yang terbuat dari kayu jati, masih utuh semua, ya.. kecuali kaca-kacanya. Kayu untuk langit-langit, juga masih banyak yang utuh. Ya, cukup banyak yang masih tersisa dari bangunan 9 x 14 meter yang roboh.

Ngomong-ngomong soal membersihkan rumah, kami memang menggunakan tenaga orang lain. Dan mereka adalah tenaga non-relawan. Jadi, kami memberikan uang lelah untuk mereka. Memang jadi ada biaya tambahan yang dikeluarkan, tapi ini sebanding dengan hasilnya. Rumah saya mungkin termasuk paling cepat dibersihkan. Lho, bukannya kemarin relawan banyak? Iya, memang banyak, tapi area dan jumlah rumah yang roboh, serta hal-hal lain yang membutuhkan bantuan juga lebih banyak kan? Saya rasa, untuk mendapatkan bantuan tenaga untuk membersihkan rumah yang roboh, ini mungkin termasuk “keberuntungan” juga. Di kampung saya, banyak tetangga yang kondisi lebih parah. Rumah mereka roboh, dan mereka juga kehilangan anggota keluarga. Keluarga saya mungkin lebih beruntung, hanya rumah saja yang roboh.

Nah, gambar diatas adalah keadaan rumah, dua bulan setelah gempa. Gambar tersebut diambil pagi hari, sekitar jam 7 pagi. Yah… jam 7 pagi memang dipaksakan untuk bangun, karena udaranya dinginnya minta ampun. Daripada kedinginan, mendingan bangun, bikin kopi, makan makanan kecil, dilanjut dengan ngobrol dengan ayah saya untuk planning hari itu. Planning? Bukan planning sih, tapi rutinitas: membersihkan dan merapikan yang belum rapi.

Dan, ini adalah pemandangan dari dalam rumah. Jadi, kalau pagi sinar matahari bisa dapet penuh. Rumah yang sehat salah satunya katanya harus dapat sinar matahari kan? Hehehe…
Catatan: Pot-pot tanaman yang ada (jumlah sekitar 15) sudah berkali-kali mengalami perubahan posisi. Dilihat dari dalam rumah, posisi bagus, tapi kalau dilihat dari arah berlawanan, ada yang kurang pas. Jadi, dipindah-pindah terus sampai mendapatkan “view” yang paling enak. Ah! Kayaknya nanti disempatkan beli tanaman lagi… biar lebih mudah mengatur letak, lebih hijau, dan lebih segar. Right?







This entry receives 9 comments.
Yudhis
dilihat dari foto sepertinya hijau sekali lingkungannya. ndak heran kalau pagi dingin dan segar :)
Aug 1, 2006 at 11:20 am
harry
enak ya disana sejuk, enggak kayak jakarta yang minta ampun melulu panasnya
:)
Aug 2, 2006 at 1:17 am
kus
maksudnya potnya dipindah itu , guna mencari pose tepat sebelum di foto kan?
TETAP SEMANGAT KANG!!
Aug 2, 2006 at 9:50 am
firman firdaus
wah, tnyata anda satu dari sekian korban gempa yg rumahnya mabruk? hmm, ikut sedih. tetap semangat lah…
Aug 2, 2006 at 12:24 pm
ods
rumah sehat harus kena matahari :))
btw, cd hasil rekaman sudah ditransfer kapan bisa ketemuan :)
Aug 2, 2006 at 5:55 pm
Rizky
tapi emang jadi sejuk keliatannya tom. dibiarin gitu aja juga keren, biar dekat dengan alam gitu loh…
ya smoga cepet beres aja deh keadaan disana.
mudah-mudahan di jakarta ngga ada gempa gede lah. klo iya bisa matek aku. gue tinggal di lantai atas, kalo ambruk kan ngga lucu.
Aug 3, 2006 at 12:28 pm
Thomas
Yudhis dan Harry, iya… cukup sejuk… hanya beberapa kilometer dari pantai, dikelilingi sawah… :)
kus, hahaha… tabok! :P
firman, iya nih… kudu jalan terus… :) Makasih…
ods, gak cuma matahari, angin juga harus bisa masuk ke dalam rumah. Haha, kalau ini sih tidak perlu diragukan lagi… Hehe. Eh, iya… CD-nya. Ayo, kapan?
Rizky, thanks… Moga-moga gak banyak lagi deh kejadian gempa… huhuhuhuhu..
Aug 3, 2006 at 2:04 pm
nien
malah jadi padhang ;p
yupe, brongkalan yg masih bisa dipake memang mending disimpen, semua jadi mahal…
Aug 4, 2006 at 9:15 am
poetra
jadi berasa taman, mas.. banyak pot-nya gitu.. tapi indah dipandang mata yah, segar :)
tinggal dikasih CSS dikit, hihihi…
ayo semangat mas!!!
Aug 4, 2006 at 10:46 pm