Web Terbaik dan sebuah tanda tanya….

Hari ini, saya mendapatkan informasi tentang sebuah event mengenai kompetisi website yang diadakan di Indonesia. Setelah belum lama ini — dan event tersebut belum selesai — ada Situs Terbaik, kali ini muncul Web Terbaik. Ajang yang pertama memunculkan beberapa tanggapan yang (diharapkan) mampu memberikan sebuah catatan tersendiri.

Referensi tetap penting

Menurut saya, perlu adanya sebuah kesepakatan (atau acuan) tentang referensi yang dipergunakan. Paling tidak, hal ini mampu menjawab pertanyaan awal seperti, “Bagaimana dapat dikatakan terbaik?”, “Terbaik atas dasar apa?”. Sekali lagi, saya tidak tahu, apakah dalam dunia internet (khususnya pengembangan website), hal ini (referensi) juga merupakan salah satu unsur yang sangat dipertimbangkan atau tidak.
Atau, apakah karena ajang ini ajang lokal, sehingga referensi juga hanya(!) didasarkan pada referensi lokal?

Konsep yang muncul di mata publik

Beberapa waktu lalu, saya pernah berbincang dengan seorang teman tentang ajang semacam ini. Salah satu hal yang (menurut saya) tidak menyenangkan adalah terciptanya sebuah pandangan publik (yang bisa saja keliru) tentang sebuah kata ‘terbaik’. Jelas kita tidak bisa menutup mata tentang kemungkinan munculnya sebuah persepsi seperti “Oh… jadi web yang baik adalah seperti ini.”, “Web terbaik adalah yang dibuat dengan metode seperti ini…”. Kenyataannya, jika dibawa kedalam sebuah lingkup yang lebih luas, mungkin persepsi adalah keliru.
Bagaimana dengan pertanggungjawaban terhadap publik?

Kriteria penilaian(?)

Dari yang pernah saya lihat, beberapa kriteria yang mungkin sedikit mengusik saya adalah:

  1. Usability(?) dan Accessibility(?)
  2. Kecepatan akses situs(?)

Mengenai bagian pertama, usability dan accessibility seperti apa yang dimaksudkan? Apakah yang dimaksudkan adalah tentang kemudahan tentang navigasi, ‘enak dan nyaman’ dilihat oleh yang menilai? Bagimana mungkin hal tersebut bisa dicapai kalau dalam salah satu langkah awal adalah tidak menggunakan kode HTML dengan benar, tanpa DOCTYPE?

Bagaimana jika ‘dipertemukan’ dengan adanya beberapa artikel/halaman berikut ini?

Yang kedua, mengenai kecepatan akses situs saya rasa juga harus dipertimbangkan kembali. Secara pribadi, saya lebih cenderung menggunakan istilah “seberapa besar informasi yang ingin ditampilkan dalam satu halaman situs”. Ini mungkin bisa dikaitkan bagimana content, disusun dalam sebuah situs. Maksud saya, kecenderungan adalah bagaimana ‘real content’ dengan ‘design’. Kecepetan akses berbeda-beda, dan spesifikasi hosting yang digunakan juga berbeda-beda.

“Cerewet lagi… cerewet lagi…”

Ya, saya juga salah satu yang mungkin terlalu banyak bicara mengenai hal ini. Tapi, semata-mata saya hanya perpendapat mengenai sesuatu, dimana pendapat saya juga didasari atas sebuah pemahaman pribadi. Saya sangat terbuka, dan saya juga tidak pernah mengatakan bahwa saya membuat sesuatu yang sangat baik, dan sayapun jelas masih belajar dan akan terus belajar tentang hal-hal baru semacam ini. Dan saya tidak mau hanya berdiri ditempat dan melihat bagaimana perkembangan dunia disekitar saya (dan diluar sana) berkembang dengan begitu cepat. Sederhana, bukan?

Kalau boleh berharap (dan bermimpi) tentang ajang-ajang semacam ini di Indonesia… “Sekali-kali memakai standar yang ada diluar sana apa salahnya sih?”

Update 11 Nov 2004

Label web terbaik? Huh! Bukan label halal! by Gigih Budi Abadi (www.pixecute.com)