Media, susahnya memahami dirimu…

in Thought

Kebetulan, saat ini beberapa blogger — sebagai seorang independent journalist — sedang membicarakan mengenai media di Indonesia; tidak mengkhususkan kepada media yang sifatnya wired saja, tapi media secara luas. Sebelumnya, mungkin Anda tertarik dengan beberapa artikel berikut ini: Blogging as a Form of Journalism, Blogs vs journalism, When Bloggers Commit Journalism, Bloggers As Independent News Reporters.


Kebetulan pula, beberapa diskusi dalam salah satu mata kuliah yang saya ambil yaitu Journalism (tentu saja!) membahas mengenai kekuatan journalisme. Dan sejak kelas pertama, ada sebuah kalimat yang dilontarkan oleh dosen saya, Munarsih Sahana, (yang saat itu baru saya dengar untuk pertama kalinya) yaitu “Press (journalism) is the fourth pillar of democracy”. Menurut saya ini sangat menarik. Dan kalau boleh, saya ingin berbagi beberapa dari apa yang sudah pernah saya dapat baik dalam proses dikuliah, maupun dari apa yang pernah saya baca.

Pendapat saya pribadi tentang media (khususnya di Indonesia), media benar-benar merupakan sebuah kekuatan yang sangat besar. Kekuatan bukan hanya dalam hal mengarahkan tapi juga kadang membawa kepada sesuatu yang kurang tepat (mislead).

Maaf, saya bukan termasuk dalam lingkaran pers yang menurut saya sangatlah rumit; jadi maaf kalau dari sisi pers pendapat saya juga kurang tepat. Apa yang saya maksud dengan ‘mislead‘ tersebut karena kadang pers menciptakan sebuah pendapat seolah pukul rata (generalisasi). Apalagi hal tersebut disampaikan oleh sebuah media yang dijadikan sebagai referensi bagi banyak orang. Kemungkinan yang kadang terjadi: “Ah, tapi menurut sumber ini begini…”. Padahal, mungkin sumber tersebut tidak benar seutuhnya. Terciptalah sebuah persepsi dalam publik bahwa karena media A mengatakan ABC, jadi ABC adalah ABC — terlepas bahwa itu adalah benar atau tidak.

Sampai sekarang, sayapun masih menganggap bahwa menulis juga bukan merupakan sebuah aktivitas yang mudah jika dikaitkan dengan sesuatu yang ‘menyangkut hajat hidup orang banyak’. Bahkan sampai sekarang saya juga tidak tahu secara faktual apa itu “kebebasan jurnalisme”. Oh iya, kaitan dengan dunia menulis untuk orang banyak, saya menemukan sebuah artikel yang menarik, yaitu tentang The Sydney Morning Herald code of ethics. Saya tidak tahu, apakah media di Indonesia juga memiliki hal seperti ini, yang juga diterbitkan secara terbuka.

Masalah menjadi semakin rumit ketika sebuah media dilihat dari banyak unsur, misalnya bahasa (ejaan, diksi, kata serapan). Saya akhir-akhir ini, paling tidak beberapa bulan ini juga sedang belajar untuk menggunakan bahasa Indonesia. Karena menggunakan bahasa Indonesia (dengan baik) bagi saya bukanlah sebuah hal yang mudah. Yulian Firdaus Hendriyana berbagi cerita mengenai alasan mengapa menggunakan Bahasa Indonesia dalam tulisannya. Saya tidak tahu apakah pendekatan yang dipergunakan dalam media adalah “yang penting maksud atau esensi tersampaikan”, sehingga tentang tata bahasa mungkin bisa ditempatkan dalam urutan nomor sekian.

Mengenai bagaimana saya menulis dengan menggunakan Bahasa Indonesia, saya rasa yang harus saya ’salahkan’ adalah Ikhlasul Amal. Dan disaat yang sama, saya juga sangat berterima kasih kepada beliau. Jika ada semacam penghargaan tentang cara menulis terbaik di media online, saya akan menjatuhkan pilihan kepada beliau. Atau, kalau mungkin membutuhkan editor untuk tulisan, beliau mampu menjadi pilihan yang tepat.

Saya pernah membaca salah satu judul artikel dalam media cetak lokal yaitu tentang meninggalnya artis Sukma Ayu. Judul artikel tersebut adalah “Artis S Akhirnya Meninggal”. Sekilas mungkin tidak ada yang salah dengan judul tersebut. Tetapi, mungkin dengan menggunakan kata ‘akhirnya’, dapat pula menciptakan kesan bahwa hal tersebut merupakan hal yang diharapkan. Walaupun, saya yakin tidak ada maksud dari media tersebut untuk menciptakan sebuah kesan semacam ini. Sangat sederhana, tapi mungkin sangat mengganggu.

“Media… susahnya memahami dirimu…”

If you're new here, you may want to subscribe to my RSS feed go get the latest entry from your RSS reader. You can also have my contents delivered to your inbox.