Sebuah catatan tentang membuat situs (di Indonesia?)

in Webdev

Mungkin beberapa dari Anda sudah melihat nominasi ajang Situs Terbaik yang diselenggarakan oleh Komputer Aktif. Yulian Hendriyana menuliskan komentar tentang hal tersebut, bahkan Priyadi Nurcahyo sempat melakukan — yang mungkin bagi orang lain adalah sesuatu yang buang-buang waktu (bagi saya tidak buang-buang waktu kok Mas Priyadi) — pemeriksaan validasi ke Markup Validation Service.


Saya pribadi, pernah merasakan sendiri bagaimana menjadi peserta dalam ajang lomba web atau webdesign (kalau saya boleh menyebutnya dengna istilah ini). Dan saya ikutpun, dengan sebuah tekat ingin mengetahui sejauh mana kemampuan saya dalam membuat website (designing a website). Mengenai hasilnya, jika memang tidak memuaskan bagi saya, tidak menjadi masalah.

Ketika saya ikut Bubu Award 2003, situs yang saya buat “mampu bertahan” sampai dengan perempat final. Saat itu, saya berpikir, “not too bad lah…”. Dan juga ketika saya ikut untuk yang kedua kalinya, kali ini dalam EWDC 2003, saya bisa bertahan menjadi peringat kedua. Saat itu apa yang menjadi hasil ‘kerajinan’ saya adalah Unofficial Site of Moccaband.

Dalam membuat keduanya, saya memang ‘bertahan’ kepada sebuah idealisme pribadi. Saya lupa tepatnya, bahwa sedikit (atau malah tidak ada?) yang menggunakan teknologi CSS. Mungkin benar juga bahwa hal semacam itu ‘agak disingkirkan’ dalam ajang semacam ini (terutama di Indonesia?). Seperti memisahkan antara design and presentation, using a correct HTML tags, dan lain-lain. Kalau memang demikian, saya tidak tahu sebenarnya apa yang dilihat dari “a good website/webdesign”. Saya juga tidak begitu memahami apa yang dimaksudkan dengan salah satu kategori penilaian adalah “aksesibilitas”. Apakah ini ‘hanya berarti’ situs tersebut bisa dibuka (ditambah dengan dibuka dengan cepat), atau bagaimana, dan juga tentang ‘compabilitas’. Apakah ketika menyebutkan ‘best viewed’ dan pengguna yang menikmati ‘kebetulan’ sedang melihat dengan requirement yang dibutuhkan situs dapat terlihat dengan baik?

Beberapa kali juga, saya pernah ‘berdebat’ tentang hal ini. Misalnya, “Kok itu tidak dikasih target="_blank" sih?”, “Buat apa pake <li>?”, “Kenapa <br />?”. Ya saat itu, saya ‘hanya mencoba’ memberikan sebuah penjelasan: karena itu adalah sebuah list kan? Bahkan untuk menjelaskan kenapa target="_blank" is a bad idea, saya jelaskan tentang browser yang memiliki fasilitas multi-tab.

Jawaban yang saya terima, “Browser apa itu?” Ternyata, browser yang selama ini dia pakai hanya Internet Explorer. MMm…. gemes juga sih. Oh iya, soal target blank ini, menurut saya lebih konyol lagi jika: Sudah dikasih target="blank", no right-click pula; ditambah lagi dengan letak document ada dalam sebuah <iframe>. Sorry I have to say this: It is really svcks!.

Tapi waktu terus berjalan. Dan sekarang juga terlihat perubahan yang menurut saya malah menjadi hal yang sedikit lucu. Beberapa waktu yang lalu, ketika Blogger sebagai salah satu jasa penyedia layanan gratis untuk membuat weblog, menyediakan pilihan template yang CSS-based, beberapa komentar yang saya temui justru: “Wah, ini edit template bagaimana?”, “Sebel kok jadi susah begini editnya?”. Ya, walaupun ada beberapa yang menyebutkan bahwa ini adalah sesuatu yang sangat bagus. Secara pribadi, ya jangan salahkan Blogger-nya dong!

Tapi dilain sisi, banyak pula yang bergeser. Sekarang banyak yang suka dengan CSS layout. Banyak yang ingin tahu dan mencoba-coba membuat sebuah desain yang tata letaknya menggunakan CSS. Banyak yang ’stress’ karena menemukan beberapa error ketika halaman diperiksa dengan Markup Validation Service.

Gampang atau susah sih?

Hmm… gampang atau susah ya? Menurut saya, ini juga kembali kepada kebiasaan. Misalnya, saya terbiasa untuk menggunakan <img src="" /> untuk memasukkan sebuah gambar dalam sebuah dokumen web. Kenapa tidak diakhiri dengan > tetapi />? Ya, karena tidak ada </img>. Dan juga, saya gunakan padding: dan margin: untuk mengatur jarak atau posisi. Karena lebih baik menggunakan ini daripada harus banyak <p>&nbsp;</p>. Masuk akal kan?

Memang benar, orientasi membuat website bermacam-macam. Bagi beberapa orang, hal-hal semacam itu sama sekali tidak perlu. Dan, silakan saja; karena hal semacam ini tidak ada yang memaksa kok. :)

“Kurang kerjaan!”

Haha! Komentar inilah yang sering saya hadapi dan temui. Ya dengan anggapan bahwa <table> is everything. Ya, memang benar, <table> lebih mudah dipakai, lebih mudah dipahami, apalagi yang membuat sebuah desain dengan WYSIWYG editor. Tapi hasil kurang kerjaan ini juga bermanfaat, paling tidak bagi saya. Misalnya, ketika saya bersama Cristian Ade Chandra membuat layanan WDCREEZZ, yang dipakai adalah konsep desain dengan CSS. Hasilnya, cukup terasa juga, apalagi kaitan dengan space dan bandwidth. Dan juga, karena kebetulan Cristian, sebagai programmer juga suka untuk melihat sebuah HTML layout yang bersih dan jelas. :) Dan sampai dengan bulan ini, sudah terasa benar manfaatnya: member bertambah, hits bertambah, bandwidth tetap sedikit. Hehe…

Oh iya, salah satu ‘hasil kurang kerjaan’ saya adalah sebuah halaman baru dalam web ini.

Well, it is about time I think.

If you're new here, you may want to subscribe to my RSS feed go get the latest entry from your RSS reader. You can also have my contents delivered to your inbox.

This entry receives 13 comments.

  1. Adi Wahyu

    Memang masih sedikit para desainer kita yang ngeh sama konsorsium Webstandard. Mereka sudah ‘keenakan’ make Win + IE dan lupa kalau di luar ada yang gak pake IE apalagi Win.

    Mereka juga ngerasa, pengunjung situs pasti bisa ‘melihat semua’ + ‘tidak ada yang buta warna’. Gak sadar kalo ada visitor yang pengen hemat bandwith dan ceept sehingga opsi nampilin gambar dimatiin.

    Padahal ada hal laen yang penting seperti usability .Halo mas Dody :), Accessibility (terutama mereka yang cacat).

    Mungkin tahun depan dah mulai ramai. Sukur ada blogger, jadi banyak yang melek CSS. Bertahap kali ya, dari valid HTML, XHTML, terus CSS. Usability dan Accessibility mungkin nyusul soalnya ini rada ribet IMHO. ;)

    Oct 19, 2004 at 8:20 am

  2. armadda

    terkadang berguna juga, misal buat ngurangi load suatu halaman, kalo pk kan halaman akan kebagi. tentu saja isi itu jangan yang main site-nya

    Oct 19, 2004 at 12:23 pm

  3. armadda

    waduh tag-nya koq ilang, maksud saya:
    terkadang tag iframe beguna juga ……

    Oct 19, 2004 at 12:25 pm

  4. Thomas

    Adi Wahyu, ya, entahlah apakah soal beginian (urusan tentang W3C) perlu atau tidak bagi beberapa orang. Tapi kalo soal good markup, saya rasa itu harus jadi pertimbangan juga. Ataukah pertimbangan hanya sebatas bagus ketika dilihat sesuai dengan requirement yang dibutuhkan?

    armadda, tentang iframe, perlunya untuk bagian mana? mempermudah dalam pengaturan content? kenapa tidak dengan CSS saja? dengan menggunakan clip: dan overflow:?

    Oct 19, 2004 at 12:39 pm

  5. Jauhari

    O iya sebenarnya browser paling standar apa yaa dalam artian bisa artikan setiap kode kita benar sesuai dengan W3C.

    Kadang juga saya ada kasus gini, udah asik asik develop make CSS, dan jalan bagus di IE Ver. 6.0 nya Micros**t dan sudah saya anggap bener, dan tak taunya waktu di test di browser lain (Firefox) kok jadi amburadul. Kadang juga terdapat sedikit perbedaan tampilan antara IE dengan Firefox trus ini gimana? atau emang saya harus belajar lagi yaa?

    Dan juga kadang ada orang ngenet yang masih make IE atau broswer lain versi lama, yang mana belum tentu nerima kode kode CSS kita itu gimana?? belum juga lintas OS (BSD, Linux, OS X, Windows 9X, Win XP, etc)

    CSS is Cool. ^_^

    Tulisan Bagus Mas Thomas

    Oct 19, 2004 at 2:05 pm

  6. Priyadi

    Dulu waktu masuk kerja pertama kali, kerjaan gua pertama kali adalah webmaster, karena gua emang suka coding web. Tapi lama kelamaan kerjaan itu makin rumit, makin susah, dan makin gak enjoyable. Akhirnya gua tinggalin desain web kecuali kalau kepaksa :). Sempet punya pikiran web tidak bisa diselamatkan lagi :(. Tapi akhirnya sekarang kita bisa koding dengan HTML yang rapih, tapi tetap mudah untuk didesain.

    Oct 19, 2004 at 2:39 pm

  7. Priyadi

    Jauhari: 98%+ browser jaman sekarang sudah bisa pakai layout XHTML+CSS, browser terakhir yang ‘amburadul’ adalah Netscape 4.7. Untuk mendesain untuk Netscape 4.7, triknya adalah supaya NS 4.7 tidak membaca CSS, hasilnya memang plain, tetapi lebih baik daripada tidak terbaca sama sekali. Silakan lihat http://www.alistapart.com/articles/tohell/

    Oct 19, 2004 at 2:50 pm

  8. Nofie

    Ehm.. kalo menurut saya, desain website itu bisa kita break-down ke dalam sisi front-end dan sisi back-end.

    Memang, lomba-lomba desain web mengutamakan sisi front-end daripada aspek back-end. Saya dulu juga pernah ikutan lomba di KMTE UGM, taun 2001 kalo gak salah. Kalau mengingat masa-masa itu, Masya Alloh, desainnya pake gambar photoshop ukuran gede, penuh dengan Java Script, dan coding HTML yang acak adut.

    Setelah saya bisa beli domain dan hosting sendiri, baru saya mikir bahwa gambar gede, tag yang berantakan, plus Java Script, selain menyusahkan juga memakan banyak bandwidth. Saya juga mikir bahwa gak semua user pakai Win+IE seperti saya.

    Tapi kemudian saya menemukan b2/Cafelog yang kemudian dilanjutkan Wordpress (waktu itu versi 0.72 kalo gak salah). Dengan b2 atau Wordpress, saya mau nggak mau harus belajar soal XHTML dan CSS (dan PHP tentu saja). Dan ternyata banyak sekali kemudahan dan keuntungan dengan XHTML dan CSS. Belum lagi, sekarang banyak bermunculan browser ’safe’ seperti Opera, Safari, dan Firefox.

    Saya emang belum gape soal CSS atau XHTML. Tapi saya yakin, nggak lama lagi, dua teknologi itu pastinya akan populer di sini. Dan emang, saya juga gumun kenapa majalah sebesar Komputer Aktif tidak memasukkan unsur validasi W3C ke dalam penilaiannya.

    Btw, nice writings, Thomas! ;)

    Oct 19, 2004 at 9:34 pm

  9. Secandri.com / Stories, Stuffs, Activities or even Junk

    Terbaik?! dimana terbaiknya?

    Ini agak telat dibanding blog teman teman seperti priyadi, jay, atau thomas yang sudah duluan membahas tentang para nominasi situs terbaik pilihan komputer aktif.

    Situs tidak hanya dilihat dari segi tampilan dan warna, tapi juga dilihat dari segi ko…

    Oct 20, 2004 at 9:22 am

  10. Catatan Pak Aris

    Situs terbaik

    Seperti biasa, tiap pagi jalan jalan dulu ke blog teman teman, ternyata pada membahas kompetisi situs terbaik. Pertama kali Priyadi melakukan validasi pada situs penyelenggara dan para nominator. Hasilnya tidak ada satupun situs yang melakukan pengkode…

    Oct 20, 2004 at 12:33 pm

  11. Ray

    wah memang dunia per-web-an ini terkadang sangat unik dan lucu juga yah. disaat duluw saya mengidolakan dan cuek terhadap dan setelah saya tahu saya sudah lupa akan begitu banyak hal yang di tawarkan oleh css yang tidak mungkin didapatkan di dalam tabel, dan sampe saat ini masih banyak yang bersikukuh dengan keberadaan tabel lebih baik dari css, serta css itu rumit.
    aduh alangkah sayangnya mereka yang tidak mencoba melihat source sebuah web yg di desain dengan css begitu rapih dan mudah di baca, dan jelas lebih ringan.
    di-”luar” sana mereka sudah pada memikirkan kevalid-an sebuah halaman baik dari desain html nya maupun css nya, alangkah ironisnya jika sampe saat sekarang hal itu belom di pandang sebelah matapun oleh sebuah media yang besar sekelas komputeraktif.
    sip tomas. n semoga mereka bisa lebih terbiasa dengan penilaian yg “bener”

    Oct 22, 2004 at 10:56 pm

  12. Benny Chandra dot com

    Finally, This Page Is Valid XHTML 1.0 Transitional!

    Belum lama ini ketika sejumlah teman seperti Priyadi, Yulian, Boy, Idban, Thomas, dan Aris ramai-ramai membahas soal web standards, gw hanya bisa tersenyum kecut… :neutral: Kenapa? Pasalnya, saat itu halaman blog gw ini masih belum valid! :sad: Ketik…

    Nov 8, 2004 at 11:10 pm

  13. Irwan Effendi

    Anda semua diundang untuk mengunjungi dan mengomentari kompetisi Masters of The Web

    Dec 8, 2004 at 3:33 pm

Buy me coffee

Do you like articles and other in my blog? If you find them useful, you can support me by sending donation.