Dari beberapa perspektif, boleh kan?

in Thought

Ketika beberapa waktu yang lalu, beberapa bloggers menulis tentang Anne Ahira. Lihat saja beberapa tanggapan di situs Priyadi, Ikhlasul Amal (#1, #2), Yulian Hendriyana, dan beberapa yang lain.


Dan saya sendiri juga pernah menuliskan pendapat saya. Dan saat ini, tulisan-tulisan tersebut mulai mewarnai Google. Nah, dapat promosi gratis. Satu hal sangat menarik bagi saya adalah beragam tanggapan atas tulisan atau fenomena tersebut. Dan, hal tersebut bagi saya adalah sebuah hal yang positif.

Mengapa saya katakan positif? Ketika sebuah issue menjadi sebuah wacana publik, tentu saja akan terjadi sebuah diskusi yang panjang, yang melibatkan banyak sekali pemikiran dari bermacam sudut pandang. Dalam tulisan diatas, beberapa penulis melihat dari sudut pandang etika, teknis, dan juga pengetahuan.

Ketika saya mengunjungi situs Ikhlasul Amal pada tulisan tentang Tulisan Priyadi tentang Anne Menimbulkan Kegusaran, saya membaca beberapa komentar yang menarik. Berikut ini adalah kutipan salah satu komentar yang ada:

bpk anda dan priyadi mungkin orang teknik jadi tidak perlu bicara soal ahira dan bisnisnya, yang kalian tau cuma soal spam atau scam atau lain sejenisnya yang ada masalahnya dengan teknik bukan urusan uang, makanya kalau anne ahira bisa kaya, saya yakin kalian tidak, begitulah orang teknik biasanya membanggakan kepintaran mereka, tapi saya kasih tahu: orang yang paling pintar itu orang yang duitnya banyak. (#1)

dan dilanjutkan dengan

satu hal lagi, Annie Ahira lebih pintar dari kalian, dia dapat memanfaatkan pengetahuan teknisnya untuk kesejahteraan hidupnya, sedangkan kalian tidak, kalian hanya memanfaatkan pengetahuan kalian untuk mengusik orang lain dan merusak pemikiran diri sendiri. (#2)

Kalau tulisan Priyadi membuat gusar (seperti apa yang dituliskan Ikhlasul Amal), komentar tersebut membuat saya heran. Ya, heran.

Baiklah, saya tetap pada pandangan pribadi saya. Bahwa kasus yang diangkat adalah tentang masalah spamming. Dan saya opini saya adalah tentang sikap.

Jadi, dari kacamata teknis, beberapa orang yang memang concern dengan hal ini pasti akan memberikan banyak tanggapan. Dan jika melebar kepada sisi yang lain, seperti sisi psikologis, ekonomi, atau yang lain, tentu saja sangat wajar. Lalu kenapa masalah bisnis (lebih condong ke ekonomi dan mungkin juga sisi psikologis) ‘tidak boleh’ dibicarakan dari sudut pandang teknis? Dalam studi saya, saya sebagai seorang mahasiswa jurusan sastra inggris, justru banyak menjumpai hal ini. Misalnya dalam mata kuliah drama. Sebuah karya seringkali dianalisa dari sisi lain pula. Dan salah satu tugas yang pernah diberikan oleh pengajar adalah membahas salah satu karya dari Arthur Miller yaitu Death of A Salesman. Salah satu topik adalah bagaimana novel ini dilihat dari pendekatan psychoanalysis yang diajukan oleh Sigmund Freud.

Baiklah, kita kembali ke masalah attitude dan spam. Saya pribadi, sudah beberapa kali ditawari (baca: diminta untuk mendengarkan sebuah presentasi MLM). Dan justru mereka adalah teman-teman yang sudah saya kenal secara baik. Pada awalnya, saya sudah menolak dengan baik-baik, bahwa saya tidak tertarik. Jadi percuma saja. Tapi yang saya dapatkan adalah sebuah jawaban, “Ya, saya minta waktumu untuk mendengarkan saja. Dengarkan dulu saja…” Nah! Ini sudah memaksa. Dan ini tidak saja terjadi ketika mereka menawarkan sebuah konsep MLM tersebut, yang lain juga sama melakukan hal seperti ini. Saya tidak tahu bagaimana hal ini bisa terjadi. Apakah karena “begitu napsunya pengen mendapatkan sebuah downline (The distributors that you sign up with your Multilevel Marketing plan are called your downline. — source)” atau “saya sedang dijadikan sparing partner bagi mereka sebagai tempat mereka berlatih melakukan sebuah approach?”. Ketika pada saat awal saya memandang ini sebagai hal yang ‘tidak perlu saya pikirkan’ (karena saya ingin menolak dengan sopan, sehingga saya tidak perlu terlibat lebih jauh lagi), pada akhirnya justru saya mendapatkan sebuah pandangan yang jauh berbeda. Secara singkat: tidak sopan.

Yang kedua, fenomena dalam dunia internet. Saya ingin mempersempit kepada hal tersebut terhadap sebuah forum diskusi (dalam hal ini mailing list). Yang saya temui, banyak mailing list yang saya temui sudah tidak nyaman lagi. Ya mungkin karena mereka (yang menggeluti bidang marketing semacam ini) akan berusaha terus untuk menyebarluaskan apa yang digelutinya. Bagaimanapun caranya.

Lalu, apakah saya tidak butuh uang?

Saya masih manusia yang normal, yang memandang pula bahwa uang adalah sebuah kebutuhan, tapi bukan segalanya. Saya masih menganggap bahwa social interaction itu penting dan saya membutuhkannya. Saya masih pula memandang sebuah effort bisa dilakukan dengan cara yang santun. Kalaupun didasarkan kepada skala bahwa ukuran kekayaan adalah berapa banyak uang yang saya miliki, saya mungkin merasa miskin. Tapi, saya mungkin merasa kaya karena saya menjumpai banyak hal dalam kehidupan dan keseharian saya. Internet marketing ini juga memperkaya saya. Bukan karena saya ikut, tetapi karena saya melatih pola berpikir saya terhadap fenomena ini. :)

If you're new here, you may want to subscribe to my RSS feed go get the latest entry from your RSS reader. You can also have my contents delivered to your inbox.

This entry receives 15 comments.

  1. amal

    Sing sabar le, sing sabar…
    Orang sabar nggak dapat-dapat… :p

    Oct 10, 2004 at 3:59 am

  2. Priyadi

    quote: “bpk anda dan priyadi mungkin orang teknik jadi tidak perlu bicara soal ahira dan bisnisnya”

    dengan analogi yang sama, biarkan saja orang ngerampok rumah saya, karena toh saya orang teknik jadi tidak perlu punya urusan dengan si rampok dan ‘bisnisnya’.

    Oct 10, 2004 at 4:19 am

  3. avianto

    perbedaan pendapat itu kesannya di’haram’kan deh kalau di Indonesia. kan harus selalu ‘musyawarah untuk mencapai mufakat’ alias ‘mauku ya itu, kamu harus mau!’

    Oct 10, 2004 at 11:03 am

  4. bhima

    quote : Ya, saya minta waktumu untuk mendengarkan saja. Dengarkan dulu saja.
    itu kayaknya menjadi kalimat ‘wajib’ orang MLM. sama aja thom, saya juga tidak tertarik sama MLM. saya malah sempet matiin hp selama seminggu, karena dikejar2 orang MLM (teman saya sendiri) supaya ikut gabung. sebel juga sih, jadi semacam pemaksaan yang terselubung, iya gak vi :)

    Oct 11, 2004 at 12:16 am

  5. Ben

    ya, gw juga pernah punya pengalaman buruk dgn MLM di mana demi mendapat korban baru, teman gw yang udah lama gak ketemu tiba2 ingin ngajak bertemu… eh, gak tahunya ajakan itu ternyata hanya KEDOK.. ternyata dia malah memprospek gw… ugh! padahal gw sampe jadualin khusus buat ketemu.. bener-bener deh… mulai saat itu gw jadi gak respek sama sekali terhadap teman gw itu!

    gak hanya sekali gw mendapat ajakan berkedok pertemuan pertemanan begitu.. hanya yg terakhir kali, teman gw (yg lain) cukup sadar kalo gw gusar ‘ditipu’ seperti itu sehingga sempat minta maaf

    ternyata MLM membuat seseorang rela mengotori arti sebuah pertemanan.. grrr

    Oct 11, 2004 at 2:10 am

  6. n[a]

    Wah saya kira mereka bukan melakukan spam lho, karena kalau spam kan mereka langsung nyelonong tanpa minta ijin. Tapi disini mereka kan minta persetujuan kita terlebih dahulu dengan kita mendaftar disitus mereka. Hanya perspektif yang berbeda.

    Oct 11, 2004 at 2:19 am

  7. Thomas

    Iamal, hehehe.. sabar.. sabar.. :D

    Priyadi, terima kasih. :) Dan saya juga tetap bertahan bahwa justru sesuatu dilihat dari beberapa persepektif juga dapat menciptakan sebuah keseimbangan. Saya tidak terbayang seandainya tidak ada sebuah counter argument terhadap sesuatu masih belum berada pada posisi “ya” dan “tidak”.

    Avianto, saya gak mau! Hehe…

    Bhima, Ben, well… saya juga pernah, dan beberapa kali sudah menolak dengan tegas. Ketika mereka (yang mau bertemu saya) bertanya kapan saya ada waktu, saya berusaha menghindar. Hasilnya, mereka langsung datang! Too bad eh!

    n[a], saya melihatnya sebagai “sebuah sikap yang tidak menyenangkan diri saya”. Minta ijin yang seperti apa?

    Oct 11, 2004 at 4:20 am

  8. ivari

    Namanya Juga perspektif orang. khan bisa macem macem, kalau orang MLM bicara dengan orang Non-MLM (atau belum, atau memang ndak mau deket), akan sulit nyambungnya.

    Kalau saya biasa main istilah “Radio” beda Frekuensinya. Contohnya, Kalau orang MLM bicara pada frekuensi FM, dan orang Non-MLM pada Frekuensi AM, bagaimanpun khan ndak ada yang nyambung. Jadi yaaa tidak ketemu.

    Namanya Juga Perbedaan
    Jadikan Perbedaan yang indah

    ^_^

    Oct 11, 2004 at 10:02 am

  9. dnd

    Point-nya adalah ETIKA.
    Segala hal yang kita lakukan, di bidang apapun, harus merujuk pada nilai-2 atau norma-2 yang berlaku di dalam suatu komunitas atau masyarakat.

    Oct 11, 2004 at 12:03 pm

  10. jaim

    Wah, saya andak bisa banyak berkomentar apakah memang Ahira melakukan bisnis dengan cara spamming atau bagaimana, karena saya ndak punya fakta yang lengkap atas itu, meski memang kalau dilihat dari sedikit artikel yang entah dibuat oleh ahira atau ndak memang menyarankan untuk keluar dari aturan-aturan etis yang ada dalam arti bertendensi memotivasi dan menyarankan bagaimana melakukan spamming dengan baik.

    Dari situ masalahnya kayaknya sih bukan teknik ataupun non-teknik. tapi ethic dan non-ethic. Sama halnya dengan saat anda etis ndak sih kalau ada orang yang teriak-teriak pake halo-halo setiap hari sepanjang malam nawarin sabun cuci, saat kita butuh ketenangan setelah seharian kerja.

    betul beberapa orang mungkin tertarik buat beli sabun cuci, dan dia ndak merogol sepeserpun dari kita, tapi terpikirkah kalau misalnya itu di dunia nyata, mungkin ia akan dilempar sepatu sama orang sekampung dianggap ndak tau adat.

    kira-kira begitu pak. Berusaha sih ya boleh-boleh saja, tapi caranya itu aja lah. masa sih bangga melakukan spamming…

    Oct 11, 2004 at 1:32 pm

  11. enda

    eh gimana kalo satu orang (siapa ya?) merangkum permasalahan anne ahira ini (mkn sebuah artikel di id.wikipedia? hehe), termasuk artikel tempo baru ttg si AA itu, dan pengalaman dodyrw di forum kaskus, trus ajak para blogger semua buat ngelink ke halaman itu dengan link text-nya “Anne Ahira” dijamin: Googlebomb. Jadi nanti urutan pertama google untuk AA akan merujuk ke halaman itu? Gimana?

    Oct 11, 2004 at 4:00 pm

  12. amal

    n[a], ini contoh spam yang dikirim oleh EliteTeamIndonesia,
    http://yulian.firdaus.or.id/2004/10/05/polemik-anne-ahira/#comment-258

    Barangkali bukan si Anne yang kirim email tsb., namun dia punya andil dalam mendorong pengikutnya untuk mengajak orang lain berikutnya dengan cara menyebar email spam. Atau kita tunggu dari situs Anne Ahira sebuah pernyataan eksplisit yang menyebutkan bahwa spam dilarang digunakan dalam bisnis mereka.

    Enda, kamu (kalau pakai “kamu” tandanya akrab, baca ulasan saya, he… he…) kan bekerja di pemasaran dan “Internet savvy”, bagaimana jika melakukan penelusuran yang mendalam sebenarnya paket yang dijual Anne itu apa sih? Referensi yang bagus kan dari sisi bisnis dan teknis? Sekedar usul… :)

    Oct 11, 2004 at 7:06 pm

  13. Thomas

    Mungkin bisa juga dijadikan “tambahan”: http://www.selfgrowth.com/articles/Ahira1.html

    Saya tertarik dengan yang #1. Hehehe :D

    Oct 12, 2004 at 2:17 am

  14. dnd

    Salah satu spam yang masuk ke imel saya,

    – edited by Thomas –
    Sorry, tanpa mengurangi esensinya, komentar selengkapnya dalam bagian ini saya pisahkan, bisa dilihat di http://warnadunia.net/upload/comm003638.txt (3 Kb)
    Dan URL dalam attachment contoh spam saya hilangkan. Terima kasih.

    Oct 12, 2004 at 10:35 am

  15. Priyadi

    hehehe, pengalaman terburuk gua tentang offline world MLM sih gini… dulu di tempat kerja gua yang lama ada telepon dari perusahaan anu, mereka minta dipresentasikan layanan web design dan akses internet. ya udah, kita siap2 dong, sesudah jam kerja kita (5 orang karena sepertinya perusahaan besar) pergi ke tempat mereka. eh, sampai disana kita disuruh duduk di ruangan bersama orang-orang lain yang tidak tahu apa-apa, dan di depan ada papan tulis. selanjutnya anda semua sudah tahu apa yang akan terjadi :) yang bikin repot besoknya boss minta laporan, kita2 yang super malu cuma bisa bilang “si client cancel acaranya” hehehe… jadi kesimpulannya kita buang-buang waktu dan gak dapet fee lembur :)

    Oct 12, 2004 at 11:24 am

Subscribe

Buy me coffee

Do you like articles and other in my blog? If you find them useful, you can support me by sending donation.