Saya bermimpi…
in Words
Saat itu, saya berbagi mengenai impian, sebuah pengharapan tentang apa yang saya pikirkan. Saya tidak tahu, mungkin apa yang saya impikan sulit untuk menjadi sebuah kenyataan. Tapi, mungkin juga merupakan sesuatu yang dapat terwujud, entah kapan. Dan sayapun perharap, semoga mimpi saya tersebut bukan hanya sebuah impian belaka, saya ingin pula itu menjadi sebuah kenyataan.
Saya memimpikan bahwa ada sebuah rumah (sebut saja sebuah bangunan). Bangunan tersebut bukan sebuah bangunan yang mewah. Yang dilengkapi dengan perabot yang mahal. Tapi cukup luas sebagai sebuah tempat untuk berdiskusi, membaca dan nyaman untuk digunakan.
Semua orang, terutama mereka yang dalam usia belajar, dapat bergabung tanpa ada rasa sungkan ataupun takut. Didalamnya, ada beberapa rak buku yang berisi mengenai buku-buku bacaan. Entah itu yang bersifat pelajaran, atau informasi lain. Buku tersebut boleh dibaca oleh siapa saja yang berada disitu. Dan dalam perjalanan waktu, buku tersebut akan terus bertambah.
Kemudian ada pula sebuah meja, dimana bisa dijadikan tempat untuk menuils dan membaca dengan nyaman. Ditengah meja, dilengkapi dengan alat tulis yang boleh dipakai. Ada kertas, dan alat tulis. Di sisi yang lain, ada sebuah papan tulis yang bisa dipergunakan untuk memberikan sebuah visualisasi terhadap sesuatu hal yang mungkin belum jelas. Disitu, kalau ada beberapa orang, bisa dipergunakan sebagai sarana untuk memberikan atau berbagi mengenai informasi satu sama lain.
Di salah satu sudut, ada sebuah galon air minum dengan beberapa gelas plastik. Sehingga, kalau ada yang haus, dapat menikmati seteguk air disitu.
Saya masih bermimpi…
Di bagian lain dinding, ada beberapa hiasan yang berupa hal-hal sederhana (dan yang perlu diketahui).
Lalu ada pula sebuah jadwal. Disitu dituliskan mengenai kapan bangunan itu terbuka untuk publik. Juga dituliskan kegiatan apa yang bisa dilakukan disitu. Sehingga jika ada orang yang mungkin sungkan atau malu untuk bertanya mengenai sebuah tempat baru yang ia kunjungi, ia dapat segera mengetahuinya.
Ah, mungkin bisa lebih menarik lagi jika ada pula hal-hal lainnya. Misalnya televisi, atau komputer. Jadi, ada saat tertentu — yang mungkin juga dijadwalkan — dimana disitu diputar film atau dokumentasi. Sehingga siapapun yang mungkin berkeinganan untuk melihat film atau informasi itu, mereka dapat melihatnya. Jika mereka ingin melihat film di bioskop, tapi tidak punya beberapa rupiah untuk dikeluarkan, mungkin ini bisa menjadi alternatif.
Kemudian, komputer bisa juga dijadikan sarana sebagai sesuatu yang menarik. Dan lambat laun, akan menjadi sahabat bagi orang yang belum mengenalnya dengan begitu dekat.
Ada pula saat dimana disana juga terjadi sebuah proses diskusi, yang lebih mengarah kepada sebuah living value. Sebuah pembicaraan yang cukup dalam. Bukan soal sebuah hukum fisika, hukum ekonomi, tapi sebuah pembicaraan mengenai respon terhadap apa yang terjadi dalam sebuah periode waktu dan tempat. Proses berbagi dalam sebuah suasana yang menyenangkan…
Saya masih bermimpi…
Saya juga membayangkan seandainya mimpi saya tersebut — yang mungkin juga impian beberapa orang — bisa menjadi kenyataan. Kadang, ketika kita bermimpi, atau menciptakan sebuah mimpi, semua bisa menjadi begitu indah dan menyenangkan.
Saya merasa bahwa apa yang saya impikan masih sesuatu yang tidak jauh dari sebuah kata mustahil. Saya percaya, itu bisa terwujud… suatu saat.
Saya rasa, satu hal yang harus saya lakukan. Saya bangun, dan menyusun keping-keping mimpi saya, dan merangkainya dalam sebuah bingkai yang rapi. Kemudian memulai untuk mewujudkan mimpi saya, yang mungkin akan melewati sebuah fase yang panjang dan melelahkan.
Dan itu mungkin…
This entry receives 8 comments.
bhima
Mimpi yang bagus banget. Mimpi yang bisa memajukan pendidikan yang sekarang ini bertambah mahal saja. Tidak ada yang mustahil Thom, mimpi kamu bisa tercapai. Tapi masalahnya kapan mimpi itu bisa diwujudkan, semakin cepat semakin baik kan:). Dan jangan ‘mungkin’, tapi ‘harus bisa terwujud dengan satu keyakinan’:)
Sep 24, 2004 at 8:14 pm
Lhukie
Tetaplah bermimpi… :)
Dan warnailah dunia dengan mimpi-mimpi kita :”>
*ceile…*
Sep 25, 2004 at 2:59 am
killy
dimimpimu ada aku ga thom??
Sep 25, 2004 at 4:13 pm
nien
Wah… kalo ada beneran bisa jadi rumah kedua tuw… ;D
Sep 26, 2004 at 11:10 am
Thomas
Bhiima, semoga… :)
Lhukie, hehe… menjadi lebih berwarna? :D
Killy, hampir Kil, cuman… keburu bangun…
Nien, yah, kalau itu jadi… :)
Sep 29, 2004 at 3:40 am
TamanKota
tulisan ini sangat mewakili alasan saya memilih nickname TamanKota .. hehe
su, i’m availableh for sparing-idea partner .. anytime my love .. anytime
Oct 1, 2004 at 3:46 am
opi
seandainya memang ada tempat yang demikian.Para pembaca gak perlu repot untuk nyariin buku yang di inginkannya. tapi apakah mimpimu itu bisa jadi kenyataan?????
Oct 6, 2004 at 1:36 pm
Thomas
Theo, thank for taking me there. Penasaran lihat wajahnya Bu Yuyun saya… :)
Opi, bisakah? bisa! kenapa tidak?
Oct 6, 2004 at 11:52 pm