Ya, pendidikan itu sangat mahal!
Saya juga tidak tahu, apakah hal tersebut benar atau tidak. Tapi dari kacamata pribadi, menurut saya, “Ya, mahal… bahkan sangat mahal!”. Betapa tidak, ketika beberapa waktu yang lalu, saya beberapa kali terlibat sebuah pembicaraan dengan beberapa orang yang saya temui. Mulai dari beberapa orang tua yang cerita tentang anaknya yang akan sekolah, seorang guru yang bercerita kepada saya tentang keluh kesah orang tua murid, dan angka-angka yang tersangkut dalam pandangan saya.
Tetangga saya, pertama bercerita kepada saya tentang pelajaran Bahasa Inggris yang didapatkan anaknya yang masih kelas enam. Dan, beliau bercerita kalau dia juga melihat bahwa soal itu terlalu susah, dengan alasan bahwa soal itu juga ditemukan dalam pelajaran Bahasa Inggris kelas tiga SMU.
OK lah, disatu sisi, sangat positif kalau sejak dibangku sekolah dasar sudah diberikan materi bahasa Inggris, tapi bagaimana dengan porsinya?
Setelah itu, beliau bercerita tentang si kecil yang sudah masuk SMP. Dan, untuk masuk SMP, biaya yang dikeluarkan lebih dari satu juta. Ya! Lebih dari satu juta untuk masuk SMP. Menurut saya, itu jumlah yang sangat besar. Entah angka itu untuk menutup cost apa. Apakah uang gedung, atau yang lain.
Belum lagi ketika saya mendengar, bahwa ada salah satu sekolah dasar yang uang masuknyapun lebih dari satu juta rupiah. Dan ada pula SMU dengan biaya masuk lebih dari tiga juta rupiah. Hebat!
Saya bukan seorang pengamat pendidikan yang mungkin akan memandang hal ini lebih dalam lagi. Tetapi saya hanya menghadapi sebuah realita. Kadang melihat kenyataan tersebut, saya juga berjalan kepada sebuah opini bahwa wajar kalau banyak orang memilih tidak sekolah (orang tua merasa tidak perlu — karena tidak mampu — untuk menyekolahkan anaknya).
Pernah pula saya kira-kira tiga tahun yang lalu, ketika saya menginap beberapa hari di kaki Gunung Merbabu, tinggal bersama sebuah keluarga. Saya menjumpai seorang anak bernama Dono yang saat itu masih kelas lima SD. Saya sempat bertanya kepada orangtuanya, Pak Teguh, “Pak, sedinten sangunipun Dono pinten? (Pak satu hari uang saku Dono berapa?)”. Pak Teguh bercerita sehari yang harus dikeluarkan kita-kira seribu rupiah, dengan perincian uang transport Rp. 600,00 dan uang jajan 400 ratus rupiah.
Bukan hanya hal itu yang saya lihat, tapi ada pula sisi yang lain, tentang “perjuangan Dono”. Saat itu, hari Senin, saya belum turun dari gunung, dan pagi (kira-kira pukul 05:00) saya sudah menjumpai Dono berada di dapur, sedang makan, baru saja selesai mandi. Saya sempatkan bertanya, “Sampai jam berapa nanti pulangnya?” Dia menjawab, “Ya sampai rumah kira-kira jam tiga siang…” Kemudian kira-kira pukul 05:30 sudah berangkat sekolah. Turun gunung kira-kira 40 menit jalan kaki untuk sampai di pinggir jalan. Kemudian naik bus.
Nah, tekat untuk mendapatkan pendidikan (ilmu) terlihat sangat tinggi. Tapi pada kesempatan yang lain, beberapa bulan setelah itu, saya kembali lagi kesana, ketika saya bertanya kepada Pak Teguh, tentang pendidikan si Dono tadi, Pak Teguh menjawab bahwa mungkin tidak sampai SMP, cukup sampai SD saja. Karena biaya makin mahal, belum lagi mendengar tentang ekstrakurikuler yang ujungnya adalah duit lagi.
Saya tidak tahu, apakah saya harus membenarkan pernyataan tersebut atau menyalahkan. Bisa benar, bisa salah.
Menurut saya, tidak perlu itu bikin program sekolah gratis seperti yang pernah “dijanjikan” oleh calon presiden dan wakil presiden ketika kampanye kemarin (menurut saya itu mustahil!). Kenapa bukan pendidikan yang “lebih murah”?







This entry receives 11 comments.
Achill
Iya Lho Thom… Gw setuju dengan program “biaya pendidikan lebih murah” masa tadi pagi di Lift gw dengerin ibu2 berkeluh kesah coz.. biaya anaknya yang baru mo masuk SMP udah ngabisin Budget 3,5 juta!!!!!
Gilingaaaan apa kabar dengan anak gw tar ya? waduuuuh :((
Aug 18, 2004 at 8:37 am
santent
mungkin saat ini harus ada Ki Hajar Dewantara baru yang mendirikan NeoTamanSiswa, ato kalo ngak ya R.A. Kartini lah.. Mas Thomas berminat?
Aug 18, 2004 at 9:42 am
echa
aku dulu waktu pas masuk smp - sma tuh harus bayar uang pangkal 3 juta :( mungkin krn skolahnya mata duitan.
Aug 18, 2004 at 4:04 pm
ndut
iyah emang mahal, ironisnya yg punya duit dan kesempatan buad sekolah kadang justru gak mikir… menyia-nyiakannya trus DO tengah jalan…
Aug 18, 2004 at 5:32 pm
Dino
ampe kapan bakal kek gini yah?? kapan Indonesia mo maju klo kek gini caranya *sambil geleng kepala*
Aug 18, 2004 at 5:50 pm
didats
bang, ga diragukan lagih, inilah indonesia. saya kwatir dengan anak saya nantinyah.. *pdhal blom punya anak* he..he..
Aug 18, 2004 at 6:44 pm
geeh---
aduuhh.. teyus gimana dunkz nich.. padahal aku kan mau macuk smp.. hikz.. om thomas mau nggak angkat sayah jadi anak pungut.. cini.. cini..
Aug 19, 2004 at 1:15 am
Thomas
huhuh… mahal euy, SPP untuk SMU saja, sekolah negeri ada yang sampe 50ribu/bulan. Bisa lebih mahal dari biaya kuliah nih. Huhuhuh…
Aug 19, 2004 at 3:26 am
iang
hmmm.. di sma gw, negri loh!, spp udahhh sekitar 6 digit yg jelas.. uang pangkal juga udah 7 digit dari kapan tau..
Aug 19, 2004 at 6:38 am
naldo
mahal itu sih relatif juga kali ya.. memang sebenarnya harus di tekan lebih murah lagi, tapi jangan sampe gratis.. karena IMHO untuk pribadi bangsa indonesia yang “aneh”, pendidikan gratis itu bisa buat bangsa kita lebih rusak, IMHO kalau gratis makin malas pada sekolah.. wong udah mahal aja malas sekolah apalagi gratis… yah memang pemerintah gak pernah care.. harusnya pendidikan di pelosok itu lebih di utamakan ketimbang yang di daerah perkotaan … sekali lagi IDIH!
Aug 21, 2004 at 2:40 am
nien
Yupe! Pendidikan jaman sekarang emang mahal dan sayangnya hasilnya juga belum seperti yang diharapkan… Sedih deh… mo dibawa kemana negara ini kalo bgeini terus :(
Anw, baca postin ini ko jadi inget tugas ospek, kya… kya…lom bikin jeh
Aug 23, 2004 at 7:26 pm