Siapa bilang malas?

in Personal

Sudah beberapa waktu terakhir ini, saya sering makan di warung yang buka pagi-pagi sekali. Kadang makan gudeg, kadang nasi rames. Pemandangan yang bisa dijumpai juga bermacam-macam. Dan salah satu kebiasaan saya — saya juga tidak tahu apakah ini kebiasaan yang baik atau buruk — adalah tanya dan ngobrol dengan yang ada disitu.


Pernah suatu ketika, ketika saya makan — sendirian — di sebuah warung gudeg pagi-pagi sekitar jam lima. Dan waktu itu, sudah hampir habis. Heran, dari gudeg dan nasi yang dijual cukup banyak, jam lima pagi sudah habis. Padahal, saya yakin kalau jam sebelas malam saja, warung itu belum buka. Lalu, dari jam berapa?

Yah, akhirnya iseng-iseng tanya. — Sudah diterjemahkan dari bahasa Jawa.

“Lho, bu… Buka dari jam berapa memangnya kok jam segini sudah habis?” Ibu itu menjawab, “Dari jam dua, Mas…” Jam dua. Bagi saya, kadang angka tersebut adalah angka dimana mungkin saya masih tidur masih tidur, mungkin malah baru berangkat tidur, atau mungkin masih keluyuran. Sedangkan disaat yang sama, ada yang sudah mulai mengais rejeki. Memberikan pengharapan atas beberapa orang yang mengawali aktivitas, berlomba dengan pagi, yang membutuhkan makanan.

Malas? Tidak.

Dulu, sudah cukup lama, pernah juga ketika suatu pagi saat saya bersama seorang teman sewaktu masih awal-awal kuliah dan masih getol dengan memotret kesibukan di Pasar Beringharjo — khususnya tempat bongkar muat sayuran — menjadi sebuah pemandangan yang seru. Saat itu, saya pulang dari hunting sekitar jam tiga pagi. Sengaja melewati tempat bongkar muat sayuran di pasar tersebut.

Ritme yang terjadi sangatlah cepat. Bagaimana sebuah kendaraan pengangkut sayur, ketika berhenti seketika itu menjadi sebuah sasaran para pedagang.

Dan dari kesukaan untuk bertanya, dan mungkin ‘mengganggu’ sayapun mendapatkan sebuah dan beberapa angka. Setiap satu ikat kacang panjang, untung yang mereka dapatkan sekitar 100 - 150 rupiah. Ya!
Kalau memanfaatkan jasa tukang gendong barang/sayuran, rata-rata ongkos adalah 1.000 - 2.000 rupiah. Dan ketika aktivitas mulai mereda, di siang hari, saya juga pernah melihat ada tawa dan senyum diantara mereka…

Malas? Tidak! Lalu… ?

If you're new here, you may want to subscribe to my RSS feed go get the latest entry from your RSS reader. You can also have my contents delivered to your inbox.

This entry receives 9 comments.

  1. Faith

    Thanks Thomas:-) Miss you around!

    Hugs

    May 7, 2004 at 8:54 am

  2. echa

    malas? tidak…lalu?

    iseng :D

    May 7, 2004 at 9:37 am

  3. killy

    banyak2 makan sayur biar sehat!!

    May 7, 2004 at 11:37 am

  4. jaim

    Ah… Sejuk ya rasanya baca cerita-cerita yang justru simpel dan lebih dekat dengan real-life. :-)

    May 7, 2004 at 2:42 pm

  5. TamanKota

    banyak jg tukang tambal ban udah kerja puluhan tahun .. tp masih aja ‘begitu’ … ketoke, iki dudu bab keset orane, ananging nrimo ing pandum .. yo mung samono iku butuh uripe .. though they are smiling afterall :)

    May 8, 2004 at 3:42 am

  6. chibz

    waaa.. blognya samaan euy ama mbak lala! pa kabz tante thomas??

    May 8, 2004 at 11:12 am

  7. sridewa

    Yah… tiap orang punya waktunya sendiri-sendiri … apakah kita tersesat dalam waktu?

    May 9, 2004 at 4:53 am

  8. echa

    hihihi thomas dibilang tante :))

    May 13, 2004 at 5:05 am

  9. sneezers^_^

    Heueheuehue… nice story!

    May 15, 2004 at 5:59 pm

Subscribe

Buy me coffee

Do you like articles and other in my blog? If you find them useful, you can support me by sending donation.