Terasa banget ketika…
in Personal
Kehilangan. Ah, rasanya sangat tidak mengenakkan. Bahkan banget. Pernah suatu ketika saya berbicara kepada seseorang tentang sebuah kata sederhana ini. Dan, saat itu, menjadi suatu pembicaraan yang sangat menarik. Kehilangan apa? Mungkin kalau ada kesempatan untuk mengumpulkan kembali dan membuat suatu daftar panjang, saya tidak akan sanggup mengingat dan menuliskan semua…
Berat sekali bagi saya pribadi kalau saya harus merasakan sesuatu yang hilang. Dan, kalau saya, justru akan sangat terasa justru pada saat kejadian tersebut berlalu. Semua selalu menjadi terlalu berharga.
Saat saya berumur 15 tahun, saya kehilangan seorang sosok ibu. Saya hanya mencoba untuk kuat. Hasilnya, saya ternyata terlalu lemah. Ada yang berbisik kepada saya, “Jangan nangis, kamu harus ikhlas. Mungkin ini sudah menjadi kehendak-Nya, saya yakin ini yang terbaik bagi ibumu… Kamu harus ikhlas, supaya ibumu diberi jalan yang lancar menuju ke surga…”
Saat itu, sebuah penolakan yang cukup hebat terjadi. Kehilangan seorang ibu? Dan sepertinya begitu sederhana.
Sampai di perisirahatan yang terakhir, saya mencoba untuk kuat. Berusaha untuk tidak menangis…
Saya mengira bahwa hal terberat saat itu adalah “saya harus kehilangan seorang yang melahirkan saya”. Ternayta tidak. Saya justru merasa bahwa saat terberat bukanlah saat itu. Saat terberat saya justru merasakan bagaimana rutinitas yang harus saya jalani. Ketika terbangun, dulu mencium bau teh panas dipagi hari… Setelah kejadian itu… tidak lagi.
Ketika belum makan, dulu sampai dimarahi karena telat makan. Ketika tidak punya uang, tinggal minta… setelah itu tidak bisa lagi, dan masih banyak ketika-ketika yang lain… Begitu berat.
Beberapa waktu setelah itu, kadang saya juga merasa iri — yah, karena saya masih manusia. Saya iri ketika mencari SMU, saya melihat banyak yang mendaftar dengan orang tua mereka, dengan ibu mereka. Dan ketika pengumuman, mereka bisa berbagi sukacita dengan ibu mereka. Saya tidak.
Kadang saya merasa benci dan pengen marah, pengen membentak orang membentak kepada ibu mereka. Saya cuma bisa bergunam, “Ah, kamu akan menyesal…” Saya tidak mau melakukan generalisasi terhadap ini, terhadap bahwa pasti akan menyesal. Mungkin itu sebuah pengakuan pribadi yang saya luapkan kepada suatu keadaan yang saya lihat… mungkin…
Tidak terasa, sudah hampir 10 tahun saya tidak menjumpai sosok yang dulu pernah memarahi saya, pernah membuatkan sarapan, pernah memberi uang saku 500 rupiah setiap pagi… Semua itu kini hilang…
Ya, hilang…









This entry receives 8 comments.
cHocoluv
you dont know what you got til it’s gone.
semoga ibunya thomas bahagia di Atas Sana.
Feb 10, 2004 at 4:33 pm
Lala
*hugs*
eh ya saya akan seneng bgt kalo bisa nemenin dirimu ke sarean, seperti rencanamu kemarin itu.. ya kalo dirimu mau sih.. :)
Feb 10, 2004 at 4:38 pm
herlyanti
turut berduka cita.. suatu keteguhan yang hebat untuk bisa menerima kenyataan yang pahit dan berat.
salut atas keteguhan yang kamu punyai…
Feb 10, 2004 at 5:46 pm
D [keajaiban]
“Dia” tidak mati,.. dia hanya pergi jauh. akan tetap hidup dihati org2 yang menyayanginya..
Feb 11, 2004 at 4:35 pm
Dinda
Walau udah berapa taun lewat… dnd masih mimpiin ibu tiap malem.. but Allah has a storyline for everyone =) Met kenal..
Feb 11, 2004 at 5:43 pm
echa
khilangan memang suatu yang bikin sedih huhu apalagi kehilangan ibu :( aku juga lagi kehilangan…kehilangan sekring 1 biji :(
hehe…
Feb 12, 2004 at 12:51 am
killy
memang gitu adanya tom. kita akan merasa sesuatu itu berharga kalo kita sudah kehilangan.
Feb 12, 2004 at 9:21 pm
sam
hiks hiks … terharu …
Feb 12, 2004 at 11:29 pm