Kereta Api kita itu…

in Daily, Thought

Sebuah catatan kecil mengenai perjalanan saya kemarin mengenai transportasi (dalam hal ini kereta api). Wah, cukup “menegangkan” dan cukup menjengkelkan pula. Menyambung tulisan dari Iamal tentang Reservasi Kereta Api, yah… mungkin sedikit menambah suatu gambaran tentang hal ini, paling tidak dari yang baru saja saya alami.


Tanggal 4 Januari 2004 kemarin, saya berencana ke Jakarta untuk melanjutkan perjananan ke Jambi karena suatu urusan. Pada saat itu, saya berpikir bahwa kereta api menjadi salah satu alternatif transportasi bagi saya (dan teman saya, karena saya tidak berangkat sendirian). Pada mulanya, saya ingin tahu saja, apakah tiket untuk tanggal 6 Januari 2004 masih tersedia cukup banyak. Saya coba telepon ke bagian reservasi. Hasilnya, tidak tersambung. Nada panggil ada, tapi tidak terhubung. Banyak kemungkinan memang, bahkan secara pribadi, ada sebuah persepsi bahwa, “Ah! Pasti mereka tidak mau mengangkat”, “Mungkin males….”, “Mungkin memang ada gangguan”, “Atau nomornya salah ya?”

Setelah itu, saya coba tanya ke bagian informasi. Dan jawaban yang saya terima, “Ya, memang begitu Mas, susah menghubungi bagian reservasi”. Nah! Jadi… bagaimana aksesibilitas informasinya? Faktanya, tidak banyak informasi untuk publik mengenai hal ini, paling surat kabar.

Yah, akhirnya, saya langsung ke bagian pemesanan tiket, dan dalam tiket direncanakan bahwa perjalanan berangkat dari Jogjakarta pukul 20:20 WIB, dan sampai di stasiun Gambir pukul 04:24 WIB. Dan, dari pengalaman sebelumnya, keterlambatan sudah menjadi hal yang biasa. Satu sampai satu setengah jam, ya… paling lama dua jam, sudah menjadi suatu hal yang biasa. Dan pada kenyataanya, dari pukul 04:24 yang direncanakan, saya tiba di stasiun Gambir sekitar pukul 06:30! Mengagumkan…

Kejadian berikutnya seputar kereta api ini, ketika pulang dari Jakarta, tanggal 14 kemarin. Dari jadwal yang direncanakan, keberangkatan adalah pukul: 20:20 WIB dari stasiun Gambir, dan tiba pukul 04:24 di Stasiun Tugu Jogjakarta. Kenyataannya, berangkat pukul 20:50 WIB, dan kurang jelas keterlambatan karena apa. Terlambat… (sudah biasa), ya… paling tidak pada saat itu saya cuma berpikir semoga saja tidak menjadi terlambat tiba ditujuan, paling tidak lebih baik — lebih cepat — dari lama perjalanan sebelumnya. Kenyataanya, tiba di Jogja pukul 08:50! Telah terjadi rekor baru keterlambatan (paling tidak dalam perjalanan saya)! Hahahah! Hebat!

Sebuah pelajaran bagi saya, dan saya berpikiran… Satu sampai dua jam (mungkin bagi masyarakat pengguna jasa transportasi kebanyakan disini — Indonesia) masih bisa diterima (dipaksakan diterima, karena tidak bisa berbuat banyak tentang hal ini, masyarakat bukan pembuat kebijakan); tetapi, empat jam keterlambatan, itu bukan lagi terlambat, tapi sudah perubahan jadwal, apalagi ini mungkin tidak secara insidental. Hampir disetiap jadwal pasti ada perubahan/keterlambatan. Mengapa tidak dibuat saja jadwal baru?

Mengenai calo (masih menanggapi tulisan Iamal), yang saya lihat di Stasiun Gambir, calo masih cukup banyak. Dan, sepertinya sudah mempunyai “ilmu kebal” terhadap penertiban calo. Saya juga kurang yakin, apakah memang ada acara penertiban segala tentang calo ini.

Oh iya, satu lagi… mengenai ongkos masuk ke peron. Khususnya untuk pengantar atau penjemput. Katakanlah ongkos itu Rp. 1.000,00. Tapi teman saya pernah berpendapat, “Edan, sekarang karcis peron segitu. Lha mending kalau fasilitas paling tidak kamar mandi/toilet gratis. Bayar segitu itu untuk apa? Mosok sudah bayar segitu tapi mau kencing saja bayar.”

Yah, begitulah…

If you're new here, you may want to subscribe to my RSS feed go get the latest entry from your RSS reader. You can also have my contents delivered to your inbox.

This entry receives 3 comments.

  1. kotakpensil

    Yah, begitulah? *whisnu’s style*
    Tapi .. paling nggak kan jadi pernah ngerasain kemping di kereta api?

    Jan 17, 2004 at 12:56 pm

  2. cHocoluv

    kalo masalah keterlambatan dan calo tu keknya bukan cuman di stasiun. di bioskop tu jg sering. pokoknya di semua tempat umum keknya selalu gitu de masalahnya.

    btw kalo ga pengin telat, naik pesawat ajah ;D

    Jan 18, 2004 at 8:25 am

  3. nien

    uhmm… lagi-lagi siy cuman bisa bilang… namanya jugak orang Indonesia, udah jadi hal yang biasa banget, telat… ngaret… calo… yah harap maklum aja…

    btw… embek udah balik ke jogja dunk, nah… nah…

    Jan 18, 2004 at 6:12 pm

Buy me coffee

Do you like articles and other in my blog? If you find them useful, you can support me by sending donation.