Yang boleh dan yang tidak
in Thought
Membaca sebuah entry ada satu pertanyaan yang cukup mengusik. Mengusik banget. Mengenai, “yang boleh dan yang tidak”. Rumit, dan mungkin akan tetap menjadi sebuah pertanyaan yang tidak ada jawaban pasti.
Kalau bagi saya pribadi, saya suka membicarakan hal-hal yang mungkin bagi orang lain itu tidak pantas. Salah satunya, saya beberapa kali bertanya pada Lala mengenai puasa itu bagaimana, ibadah, dan lain-lain. Dan, sampai saat inipun, hal yang sama terjadi dengan dia. Hanya sekedar ingin tahu. Tidak lebih. Mengapa? Karena menurut saya, lebih baik saya tahu dan mengerti sekarang, daripada saya melakukan hal-hal yang seharusnya tidak saya kerjakan. Paham, tapi telat.
Saya tidak menutup mata bahwa sesuatu yang menurut saya dan bagi saya itu wajar, mungkin tidak wajar bagi orang lain. Mungkin, keingintahuan saya itu tidak tepat sama sekali. Atau, mungkin ada yang membaca sebagai, “Ah, kamu tidak perlu tahu itu.. Itu bukan urusanmu..” Tapi maaf, bagi saya.. tidak. Mengucapkan selamat hari raya kepada yang lain misalnya, bagi saya itu hal yang sangat wajar, dan mudah. Dan, menurut saya, itu tidak salah; sangat tidak salah. Di lingkungan saya sendiripun, kadang terjadi keadaan yang “memaksa” saya untuk hal-hal yang menurut orang lain “tidak wajar” itu tadi. Sudah bertahun-tahun saya melakukan sungkem pada saat lebaran. Ya, setelah melakukan Sholat Ied. Ya memang pada saat sholat Ied, saya dirumah kadang cuman nonton tv. Setelah itu, acara keluarga beserta kerabat yang datang… sungkeman.
Intinya, menurut saya, sungkeman itu adalah memohon maaf atas kesalahan kepada orang lain (dalam hal ini yang lebih tua). *Maaf kalau pendapat saya ini salah* Yang saya lihat, prosesinya dan esensinya tidak ada yang salah. “Apakah kita minta maaf itu salah?” Saya rasa tidak.
Perbedaan itu… indah. Saya pernah mendengar kurang lebih seperti ini
Coba saja didunia ini tidak ada perbedaan jenis kelamin. Apa jadinya kalau pelangi itu warna tidak berbeda-beda. Dan, banyak orang yang ingin melihat perbedaan itu; karena orang itu berpikir dan mendengar bahwa perbedaan itu indah. Seorang yang buta warna ingin melihat pelangi, karena dia mendengar “…pelangi pelangi, alangkah indahmu, merah kuning hijau, dilangit yang biru…”
This entry receives 9 comments.
nuar
entry dimana nih pak..? minta link-nya dong..
Dec 30, 2003 at 4:15 pm
cHocoluv
Differences make the world more beatiful ;)
Dec 30, 2003 at 9:31 pm
beranda
membicarakan sesuatu yang mungkin tidak pantas dibicarakan bagi orang lain, menurut saya boleh saja asal kita bicara kepada audience yang tepat. jadi pinter2 lah memilih audience :)
Dec 30, 2003 at 10:49 pm
Thomas
nuar, mmm… cari deh :)
chocoluv, true…
beranda, saya sangat setuju. pilih audience yang tepat… audience saya saat itu.. ya si nyonya itu *_*, dan saya rasa, dia audience yang sangat tepat… :)
Dec 31, 2003 at 12:38 am
abu karar
dalam islam, mengucapkan selamat hari raya pada pemeluk agama lain tidak dibolehkan, karena hal ini menyangkut aqidah.aqidah mengatur hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, dan tidak boleh dicampur adukkan dengan hal-hal lainnya, dan islam pun TIDAK anti perbedaan, buktinya dalam salah satu surat Al-qur’an (surat Al-kafirun) disebutkan bahwa ‘bagimu agamamu dan bagiku agamaku’, jadi islam sangat mentoleransi adanya perbedaan, dan saya sepakat kalau perbedaan itu indah, indah dan menyenangkan melihat perayaan lebaran dan natal.
jika permasalahannya adalah toleransi, maka hal ini kurang tepat saja dijadikan alasan untuk memperbesar permasalahan ini, karena bukankah perbedaan itu indah ? termasuk perbedaan keyakinan dan pendapat ?? perbedaan keyakinan atau aqidah dengan tidak mencampur adukkan dengan hal-hal lain, dan menerima perbedaan pendapat dengan menghormati pendapat tiap? individu. karena perbedaan aqidah adalah sudah diatur oleh agama masing-masing, dan perbedaan pendapat yang sifatnya non aqidah adalah menyangkut perbedaan pada individu? itu sendiri.
kalau menyangkut masalah sungkeman atau memohon maaf adalah SANGAT dianjurkan dalam islam, dan banyak sekali ayat? dalam al-Qur’an dan Hadist Nabi SAW yang menganjurkan untuk saling memaafkan ‘walaupun berbeda agama’, misalnya ke orang tua yang berbeda agama atau ke keluarga dan teman.
bukankah perbedaan itu indah ?
Dec 31, 2003 at 9:50 pm
Thomas
Setuju sekali kalo perbedaan itu indah.. :)
Jan 2, 2004 at 1:07 am
isni
Kalo kata guru agama waktu SMA sih, umat Islam ga boleh ngucapin selamat natal soalnya kalo ngucapin artinya ikut meyakini kalo natal itu ada. Tapi untuk ngucapin “selamat merayakan hari natal” boleh..
what’s your color banget.. (eh, motto warna dunia udah bukan itu lagi yahhg :))
Jan 2, 2004 at 8:43 pm
ivari
Wah bagus tuh mas thomas, dan yang penting bagiku sih, bagaimana menempatkan SESUATU itu pada TEMPATNYA
:)
Jan 3, 2004 at 10:45 am
sridewa
Hm… bagus. Saya juga hidup dalam lingkungan beragama yang heterogen. Dan yang diajarkan pada saya adalah, bagaimana menjalani kehidupan beragama sebagai budaya.
Jadi dalam keluarga saya, dianggap bahwa perayaan hari raya agama lain adalah salah satu bentuk kebudayaan.
Saya secara pribadi yang beragama Islam memandang perayaan Natal misalnya sebagai bentuk kebudayaan lain yang tidak perlu dimusuhi. :) Sama seperti saya memandang perayaan Tahun Baru 1 Januari, Hari Pahlawan, Hari Kemerdekaan, dll.
Sekian saja…. :) peace dab!
Jan 7, 2004 at 6:43 pm