Empat Mata Trans 7 (dan Tukul Arwana)

Tukul Arwana

Empat Mata, sebuah tayangan acara Trans 7 saat ini mungkin menjadi topik yang cukup banyak dibicarakan. Dan, tentu saja sosok Tukul Arwana yang memiliki nama asli Tukul Riyanto semakin dikenal. Saya masih ingat beberapa minggu lalu, media (terutama infotainment) di Indonesia cukup gencar mengulas mengenai sosok yang satu ini.

Yang banyak diulas, selain kesuksesan seorang Tukul Arwana bersama dengan Empat Mata, juga mengenai sosok personal yang dimiliki oleh seorang Tukul Arwana. Selamat untuk Tukul Arwana dan Empat Mata untuk pencapaian ini!

Jargon-jargon baru juga muncul dan semakin populer. Yang pertama tentu saja “Kembali ke lappp… topp!”. Ungkapan ini semakin akrab saja di telinga. Tentu saja disamping jargon lain seperti “Katro!”, “nDheso!”, “Tak sobek-sobek mulutmu!”, dan lain-lain yang identik dengan Tukul Arwana dan Empat Mata.

Empat Mata Trans 7

Saya sendiri memang tidak terlalu mengikuti acara ini. Dalam artian bahwa saya tidak secara khusus melihat acara ini. Walaupun acara ini sebenarnya sudah dimulai pada 26 Mei 2006 yang lalu, saya mungkin baru beberapa kali (saya yakin kurang dari 20 episode) melihat acara ini. Setelah mengalami perubahan jam tayang-pun, saya juga tetap tidak terlalu excited dengan acara ini. Kenapa?

Continue reading »

Pecel

Makanan ini terdiri dari beragam sayuran, mulai dari bayam, kacang panjang, daun kemangi, kol, dan juga tauge. Disajikan dengan bumbu kacang. Ya, itulah pecel. Di Jogjakarta, makanan ini cukup mudah ditemukan. Di pasar (terutama pasar tradisional), atau di beberapa warung makan, pecel ini dijadikan sebagai salah satu menu. Ngomong-ngomong soal pecel ini, saya sendiri juga tidak tahu asal mula mengapa makanan ini diberi nama “pecel”. Tapi satu hal yang pasti bahwa makanan ini termasuk cocok di lidah saya.

Ketika saya dan Lala berjalan-jalan di daerah Malioboro, beberapa kali memang menyempatkan untuk membeli makanan ini. Bukan di warung makan, melainkan di tempat makan pinggir jalan, tepatnya di depan Pasar Beringharjo (di sisi selatan Jalan Malioboro). Disekitar pasar Beringharjo sendiri cukup banyak penjual pecel ini, walaupun memang belum pernah membandingkan diantara para penjual (baik dari segi rasa, maupun haga). Hehe…

Continue reading »

e-lifestyle Metro TV (18 Februari 2007): Teknologi Web 2.0

Minggu yang lalu (18 Februari 2007, pukul 11:30 WIB), berdasar informasi yang disampaikan oleh Boy Avianto melalui SMS kepada saya dua hari sebelumnya, e-lifestyle Metro TV mengangkat topik mengenai teknologi Web 2.0. Acara tersebut dipandu oleh Meutya Hafid demgan mendatangkan dua orang nara sumber yaitu Boy Avianto dan Nukman Luthfie (Nukman Luthfie juga membahas tentang acara tersebut di blog-nya). Dalam acara tersebut, Wimar Witoelar juga terlibat dalam diskusi melalui sambungan telepon.

Saya sendiri hanya melihat tanyangan ulangnya, karena pada saat saya sampai ke tempat Lala, acara sudah mulai.

Acara sangat menarik, walaupun memang pembahasan tidak dapat mendalam karena durasi acara yang “cuma” 30 menit (belum termasuk iklan). Tapi, satu hal yang harus disambut baik paling tidak ada sebuah proses penyampaian informasi yang bagi banyak orang termasuk hal yang asing.

Meutya Hafid, sebagai host, dapat membawa diskusi dengan menarik.

Nah, kalau misalnya ada yang tertarik mengenai apa yang dibicarakan dalam acara tersebut, saya sudah punya rekaman audio (dan juga transkripnya, tapi belum selesai semua sih… ). Tapi, sementara belum saya tampilkan dulu, saya tanya dulu ke pihak Metro TV, apakah rekaman tersebut boleh ditampilkan atau tidak. Kalau misalnya sudah diijinkan, tinggal saya upload saja…

Aburizal Bakrie: Masalah banjir jangan dibesar-besarkan…

Di bulan Februari ini, salah satu topik yang sangat hangat dibicarakan adalah mengenai Jakarta yang sedang dilanda banjir. Saya sendiri berusaha untuk mengikuti informasinya, terutama melalui media televisi. Melalui beberapa sumber berita lain seperti situs berita online dan juga media cetak, yang saya lihat adalah bahwa bencana ini bukanlah bencana kecil. Terlihat bagaimana infrastruktur fisik porak poranda karena musibah ini. Bahkan puluhan orang juga telah meninggal dunia.

Saya rasa sudah cukup bukti bahwa bencana yang terjadi bukanlah sebuah permasalahan yang sepele. Saya memang tidak berdomisili di Jakarta, dan saya memang kurang tahu banyak mengenai bagaimana kebijakan pembangunan di Jakarta, pengaruh tata kota, dan keadaan geografis Jakarta membawa pengaruh terhadap terjadinya banjir kali ini. Namun, sekali lagi, saya merasa bahwa ini bukanlah masalah yang sederhana.

Saya sempat berbincang dengan Avianto, dan dia memberitahukan informasi mengenai pernyataan Aburizal Bakrie sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, sesuai yang dikutip di situs Liputan 6:

“Kalau kita lihat para korban itu masih ketawa. Jangan sampai dikondisikan seolah-olah dunia mau kiamat seperti yang televisi Anda (SCTV) katakan demikian,” kata Aburizal di Jakarta, Selasa (6/2).

Ajaib!

Continue reading »

okezone: alternatif sumber berita baru?

Budi Putra memberikan informasi mengenai salah satu portal berita baru yang mungkin menjadi salah satu pesaing detik.com. Bagi saya pribadi, ini merupakan sebuah berita yang bagus. Muncul sebuah kompetitor baru yang mungkin bisa menjadi alternatif dalam hal perolehan informasi. Melalui alur diskusi dalam tulisan Budi Putra tersebut, saya mendapati situs yang dimaksud adalah okezone – http://okezone.com – (terima kasih Ndoro Kakung untuk informasinya!).

Informasi memang berkembang dengan cepat, dan tidak bisa dipungkiri bahwa kebutuhan publik terhadap sebuah informasi yang aktual, mudah didapat, dan akurat akan terus berkembang. Nah, apakah OKEZone ini dapat menjawab tantangan tersebut? Masih terlalu dini untuk menyimpulkannya saat ini. Jadi, kita tunggu saja…

okezone.com

Mengenai situs OKEZone sendiri, sepertinya Joomla menjadi pilihan untuk melakukan sistem pengaturan konten. Dan pihak pengelola situs sendiri, saya rasa sudah melakukan sebuah studi tersendiri mengenai kebutuhan fitur dan proses pengelolaan informasi, sehingga menentukan Joomla sebagai pilihan. Selama alat bantu tersebut memang dapat memfasilitasi kebutuhan, kenapa tidak?

Oh ya, malah jadi kepikiran, kalau ini sifatnya informasi, saya juga melihat bahwa sebenarnya para blogger Indonesia pun banyak yang memiliki kontent yang tidak kalah bagus dengan apa yang ditulis oleh portal berita di Indonesia. Bahkan, mungkin dalam beberapa hal (dengan menggunakan parameter tertentu), tulisan para blogger mungkin lebih baik ketika mengungkapkan sebuah topik yang sama. Nah, sepertinya bukan sebuah hal yang mustahil jika para blogger juga memiliki “media publikasi informasi” sendiri. Tapi saya disini tidak bicara tentang aggregator. Saya lebih menekankan kepada sebuah situs yang menyediakan informasi yang ditulis oleh para blogger (atau non-blogger juga bisa), dan dipresentasikan dengan “lebih manis”. Nah, bagaimana?

Update 18:32:

Kalau sedikit membandingkan, sepertinya ketika membuka situs okezone dengan menggunakan alamat http://202.147.200.136/, konten lebih lengkap di alamat IP tersebut. Apakah okezone.com masih merupakan halaman coba-coba? Silakan melihat beberapa isian di okezone.com: [1], [2], [3].

YPAC Solo dan Mitra Tema

Sabtu lalu, saya bersama Lala main ke Solo, tepatnya di YPAC (Yayasan Pembinaan Anak Cacat) Solo. Kedatangan kami atas undangan Mas Joko, setelah kami melakukan korespondensi berkaitan dengan sebuah ide dari Mas Joko untuk menghadirkan sebuah media informasi baru mengenai kegiatan YPAC yaitu: memanfaatkan weblog sebagai media penyampaian informasi.

Oh ya, Mas Joko ini adalah salah seorang yang pernah ikut berpartisipasi mengirimkan SMS pada acara Demam Blog di E-Lifestyle MetroTV beberapa waktu lalu.

Disana, kami bertemu dengan beberapa teman baru. Ada Mas Joko dan Oyi (semoga saya tidak salah menuliskan nama), Nolda, Mas Heru, dan beberapa rekan lain. Dan kami banyak mendapatkan informasi mengenai apa yang ada di YPAC Solo ini, termasuk dengan fasilitas dan layanan yang diberikan. Oh ya, jika ingin mengunjungi YPAC Solo, tempat sangat mudah ditemukan. Tepatnya di depan Solo Grand Mall, persis di seberang jalan.

Continue reading »

Dian Sastrowardoyo dan Super Milyarder 3 Milyar

Saya mungkin termasuk orang yang cukup jarang menonton televisi. Ya, kecuali acara-acara liputan khusus, berita, dan acara yang sifatnya informasi. Paling tidak acara tersebut jauh lebih memberikan manfaat daripada sinetron yang makin tidak jelas, daripada infotainment yang semakin mengada-ada. Entahlah, acara televisi (baca: televisi nasional) semakin tidak menarik saja. Mendingan juga nonton acara televisi yang menampilkan kehidupan flora dan fauna. Lebih jelas manfaatnya.

Dian Sastrowardoyo: Super Milyader 3 MilyarBeberapa hari yang lalu, untuk pertama kalinya melihat dengan sekilas acara Super Milyader 3 Milyar di ANTV, dengan host Dian Sastrowardoyo. Noton sekilas saja ketika mau bayar di kasir ketika makan bareng sama Lala. Sekilas, yang ada dalam pikiran saya, “Kok aneh banget sih?“. Saya pribadi tidak tahu apa hubungan antara acara Super Milyader 3 Milyar tersebut dengan Who Wants to be a Millionaire yang dibawakan oleh Tantowi Yahya. Yang pasti, secara konsep, mungkin mirip sekali. Dari yang saya lihat, yang jelas berbeda adalah kualitas host-nya.

Continue reading »

Selamat datang di blogosfer!

Harry Sufehmi, beberapa waktu yang lalu memberikan informasi bahwa beliau telah mendaftarkan lebih dari 25 domain yang berkaitan dengan nama-nama yang duduk sebagai pejabat pemerintahan. Mas Harry menyampaikan bahwa:

Untuk menghindari representasi digital para Menteri ini dari diserobot oleh pihak-pihak yang tidak beritikad baik, maka barusan saya sudah mendaftarkan domain name berikut ini ke account saya:

Dan pernyataan tersebut ditutup dengan:

Perhatikan bahwa itikad saya baik, yaitu mencegah domain name ini dari diserobot oleh para oknum; agar kasus-kasus, seperti disanderanya domain gusdur.com sebesar Rp 1 milyar, tidak terulang lagi.
Bagi para Menteri yang ingin mengklaim domain namenya, saya akan memberikannya GRATIS. Cukup hubungi saya (yang paling mudah adalah dengan berkomentar di posting ini), maka saya akan menyerahkannya tanpa biaya bagi ybs sama sekali.

Ah, ide yang menarik Mas Harry!

Sampai sekarang, saya pribadi kurang tahu mengenai tindak lanjut (dari pihak yang terkait dengan hal tersebut) maksud baik Mas Harry tersebut. Apakah menteri (atau siapapun yang memiliki akses terhadap hal seperti ini) sudah mensikapi hal tersebut atau belum? Mungkin hanya Mas Harry yang tahu.

Continue reading »

Mekanisme pembuatan surat keterangan kehilangan

Kemarin, adik saya memberitahukan kalau dia kehilangan buku tabungan dan kartu ATM. Dia adalah salah satu nasabah di Bank Mandiri. Saya sarankan untuk mengurusnya di bank, dan minta surat keterangan kehilangan dari kepolisian. Saya informasikan saja bahwa mekanismenya tidak rumit. Dari beberapa kali yang saya alami, mekanismenya adalah sebagai berikut:

  • Datang ke kantor polisi kemudian menyampaikan keperluan ingin membuat laporan kehilangan (minta surat keterangan kehilangan).
  • Diminta menjawab beberapa pertanyaan perihal informasi yang akan dituliskan dalam surat kehilangan tersebut; seperti nama, alamat, dan lain-lain.
  • Surat keterangan siap, kita diberikan berkasnya dalam bentuk print out (atau manual jika menggunakan mesin ketik).
  • Surat keterangan selesai. Meninggalkan kantor polisi dan menggunakan surat tersebut untuk keperluan selanjutnya.

Oh ya, sampai saat ini saya kurang jelas mengenai biaya pembuatan surat tersebut. Setahu saya, surat keterangan adalah gratis. Itu sebagai bentuk layanan dari kepolisian. Tapi saya pernah menjumpai hal seperti ini:

Saya diminta mengganti biaya “administrasi”. Well, JIKA memang ada hal biaya seperti ini, kok sepertinya mekanismenya aneh ya? Maksud saya, lebih baik memang langsung dikomunikasikan dengan jelas. Misalnya, polisi langsung menyampaikan bahwa biaya adalah sekian ribu rupiah. Selesai.

Tapi, pernah saya mendapati yang disampaikan polisi adalah, “Mas, ada biaya administrasinya…”. Saya balik tanya, “Berapa pak?” Pak polisi menjawab, “Terserah Mas, seikhlasnya saja…”.

Loh? Gimana sih?

Continue reading »

Buah segar siang ini…

Buah segar

Komposisi:

  • Pepaya
  • Bengkoang
  • Mentimun
  • Nanas
  • Jambu monyet — sepertinya sedang musim deh… biasanya jarang banget, tapi ini tiba-tiba ada.
  • Jambu air
  • Mangga (sedikit)

Dan semuanya cukup Rp. 3.000,00 saja. Oh ya, bumbunya tidak terlalu pedas… Oh ya, kenapa pisang tidak ada dalam komposisi ya? Kali ini gak rebutan sama Lala… :P

Indomie Gempa Goreng Kriuk

Saya lupa kapan pertama kali melihat iklan Indomie Goreng Kriuk Versi Gempa, kalau saya boleh menyebutnya demikian. Tapi saya rasa saya melihatnya di bulan Agustus 2006 ini.

Ada yang salah dengan Indomie Goreng Kriuk (IGK) ini? Secara rasa, saya tidak tahu, karena saya belum pernah mencobanya. Ada yang sudah?

Untuk produk IGK ini, saya secara pribadi agak terganggu dengan versi yang terakhir: Indomie Goreng Kriuk Versi Gempa! Hal yang membuat saya terganggu adalah dalam iklan ini, jelas-jelas digambarkan bagaimana Kriuk-nya mie ini “mampu membuat gempa”.

Saya tidak tahu, apakah saya hanya terlalu sensitif saja ya? Tetapi, itulah yang saya rasakan. Beberapa bulan terakhir ini, gempa mungkin merupakah salah satu topik paling hangat dibicarakan. Dan, saya sendiri mengalami bagaimana dahsyatnya gempat tersebut. Bahkan, sampai sekarangpun, saya masih merasakan trauma. Jangankan gempa besar, gempa kecilpun mampu menimbulkan dampak yang luar biasa.

Continue reading »

Kritik Roy Suryo terhadap Situs Juwono Sudarsono

Beberapa hari yang lalu, harian Jawa Pos memuat sebuah artikel mengenai pendapat Roy Suryo tentang situs pribadi Bapak Juwono Sudarsono. Artikel ini saya baca untuk pertama kali ketika saya makan di warung makan langganan saya. Artikel ini berada disisi kiri atas halaman depan. Ketika membaca tulisan ini, saya berpikir, “Ah, dia (Roy Suryo) lagi…”.

Setelah membaca keseluruhan artikel tersebut, saya melihat bahwa artikel tersebut memuat sebuah komentar yang sangat dangkal. Lebih hebatnya lagi, yang mengemukakan pendapat adalah seorang yang oleh media mendapat predikat sebagai pakar telematika. Menurut saya, komentar semacam ini hanyalah komentar biasa. Kalau memang benar-benar seorang ahli (yang memahami apa yang dibicarakan), saya rasa tidak akan muncul pendapat semacam ini.

Dalam berita tersebut, Kepala Biro Humas Departemen Pertahanan Brigjen Edy Butar Butar menyampaikan bahwa:

Pak Menhan mengelola dan menulis sendiri situs itu, kadang-kadang dibantu putranya. Namun, isinya juga ada hal-hal yang berhubungan dengan kebijakan strategis pertahanan Indonesia. Sebab, beliau kan punya pemahaman yang sangat baik tentang isu-isu itu

Beliau (Brigjen Edy Butar Butar) juga menambahkan bahwa secara institusi, website itu tidak terkait dengan Biro Humas Dephan. Nah, jadi sudah jelas-jelas, bahwa apa yang ada disitus tersebut adalah sebuah pendapat dalam sebuah situs pribadi.

Roy Suryo mengatakan bahwa:

Kalau belakangnya pakai com, itu perusahaan, ada kepentingan bisnis atau komersialnya. Karena itulah, kita tidak menggunakan ekstensi com untuk website presiden.

Roy Suryo juga memberikan saran agar Menteri Komunikasi dan Informasi Sofyan Djalil untuk mengingatkan koleganya (Bapak Juwono Sudarsono).

Menurut Roy, dalam dunia maya, sudah ada klasifikasi di balik pemilihan domain. Dijelaskan, jika website didesain resmi untuk informasi kenegaraan, menggunakan ekstensi domain go.id, misalnya www. deplu.go.id yang dipakai Departemen Luar Negeri. Untuk kepentingan pendidikan, lazimnya menggunakan ekstensi domain edu di belakang nama situs. “Jangan salah kaprah,” tegasnya.

Artikel tersebut ditutup dengan sebuah paragraf mengenai apa yang disampaikan Roy Suryo:

Pria bergelar Kanjeng Raden Mas Tumenggung itu juga mengkritik model blog yang digunakan dalam situs Menhan. “Itu kan tidak resmi, sepatutnya sebagai pejabat publik harus menampilkan citra yang baik, termasuk dalam berkomunikasi melalui internet.”

Marilah kita luangkan waktu sejenak untuk tertawa untuk selingan hiburan ini!

Continue reading »

Dua bulan setelah gempa

Minggu yang lalu, saya berkunjung ke rumah saya yang ada di Bantul. Banyak hal yang berubah… paling tidak untuk dua bulan ini. Kalau dilihat dari perubahan fisik, tentu saja ini benar-benar berubah. Bangunan tidak ada lagi. Tetapi halaman (tempat lapang), sekarang menjadi lebih luas.

Kemarin sempat pula melakukan penghitungan sederhana. Menghitung luas bangunan yang roboh, menghitung properti yang masih tersisa, dan lainnya. Ternyata, masih banyak juga yang tersisa dan bisa dimanfaatkan.

Proses membersihkan puing-puing kemarin memang memakan waktu lebih lama, karena ingin menyelamatkan beberapa hal, misalnya batu bata, genting, kayu, dan lain-lain. Kalau misalnya sisa bangunan yang masih berdiri asal dirobohkan saja, mungkin jumlah batu bata, genteng dan lainnya tidak sebanyak yang ada sekarang.

Untuk genteng, setelah dikumpulkan, ternyata masih ada sekitar 2.500 buah. Batu-bata juga banyak, jumlahnya sepertinya ribuan. Kerangka pintu dan jendela yang terbuat dari kayu jati, masih utuh semua, ya.. kecuali kaca-kacanya. Kayu untuk langit-langit, juga masih banyak yang utuh. Ya, cukup banyak yang masih tersisa dari bangunan 9 x 14 meter yang roboh.

Continue reading »

Live search:

I'm @thomasarie on Twitter

Subscribe to RSS

Enter your email address and get recent updates sent to your email in the morning.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License.

Designed by Thomas Arie. Icon character by Fredy Sujono.