Beberapa minggu terakhir ini, saya sedang bermain-main dan mencoba-coba untuk menggunakan Ubuntu (Dapper Drake). Ubuntu menjadi pilihan saya saat ini, setelah sebelumnya menggunakan beberapa distro lain seperti Mandriva, dan juga sempat PCLinuxOS. Oh ya, selama ini saya mendapatkan bantuan dan informasi dari Redy, teman saya.
Beberapa bulan lalu, saya memang pernah mencoba untuk menggunakan Ubuntu. Tapi saat itu benar-benar masih belum merasakan kenyamanannya. Mengapa? Saat itu, saya masih menggunakan LiveCD, dan juga benar-benar hanya mencoba-coba. Yang lebih “parah” lagi, saya sama sekali tidak memiliki pengetahuan mengenai apa itu Linux, apa itu distro, dan lain sebagainya.

Nah, setelah ada teman yang banyak membantu saya dalam hal-hal dasar (bahkan termasuk proses installasi untuk dual OS), dan juga mendapatkan informasi-informasi yang dasar, paling tidak sekarang sudah ada sedikit pencerahan. Saya masih ingat sekali beberapa bulan lalu, karena sudah benar-benar bingung, saya sampai mengirimkan SMS ke Mas Amal, hanya untuk bertanya tentang GRUB, dan oleh Mas Amal dijawab dengan: format /mbr. Terima kasih ya Mas Amal!
Jujur saja, sebelum mulai untuk menggunakan Linux (tapi belum sepenuhnya, karena Windows XP masih bersarang di komputer yang sama), saya sempat memiliki beberapa ketakutan dan keraguan. Cukup banyak pertanyaan yang muncul di kepala saya. Ya, bagi yang sudah mengenai sistem operasi ini sejak lama, mungkin pertanyaan-pertanyaan saya akan dengan mudah terjawab. Tapi bagi saya, yang notabene tidak punya dasar sama sekali tentang sistem operasi seperti ini, mungkin bisa membuat saya benar-benar kebingungan.
Salah satu hal yang benar-benar sulit (dan mungkin ini juga banyak disinggung) adalah bagaimana mengubah kebiasaan. Saya pribadi merasa memang ketika menggunakan Windows XP, semuanya menjadi sangat mudah. Ketika ingin meng-install sebuah aplikasi, proses sangat mudah. Bahkan banyak sekali program yang benar-benar membuat “hidup menjadi lebih mudah dan menyenangkan”.
Disisi lain, banyak punya yang bilang bahwa Linux itu mudah. Linux itu tidak sesulit yang dibayangkan (dalam tahap tertentu). Dan, ada pula yang mengatakan bahwa banyak alternatif yang bisa dijadikan solusi terhadap sebuah “ketergantungan” terhadap sebuah sistem operasi. Nah, kenapa tidak dibuktikan saja? Ya, daripada cuma penasaran dan mengambil kesimpulan bahwa Linux tidak bisa memberikan solusi.
Ketika Ubuntu sudah ter-install, saya mengalami sebuah kebingungan. Pertanyaan pertama saya adalah: “Nah, selanjutnya apa?”. Saya sempat bingung mengenai apa yang pertama kali sebaiknya saya lakukan. Belum sempat saya mendapatkan jawaban lengkap atas pertanyaan saya, gerombolan pertanyaan berdatangan tanpa permisi. Cara install program bagaimana? Apakah saya tetap bisa mengakses hardisk saya yang saya lihat ketika saya menggunakan Windows? Data saya disimpan dimana? Bagimana cara memutar berkas file .mp3, film, dan lainnya?
Okey, sepertinya kali ini Teori Bubur Panas memang harus digunakan. Katanya, makan bubur panas itu harus perlahan, mulai dari pinggir, karena yang pinggir akan lebih dingin. Jadi, perlahan saja…
Hal pertama yang saya lakukan adalah mengenali apa saja yang ada didepan saya. Setelah mencoba-coba, memiliih menu, tampilan apa yang saya dapatkan, dan lainnya, sepertinya sudah ada pencerahan. Setelah memahami beberapa hal mendasar, akhirnya mencoba-coba proses selanjutnya, membaca panduan, bertanya sana-sini. Setelah kurang lebih mencoba selama hampir satu minggu, saya merasa bahwa: Linux itu tidak seram. Linux itu menyenangkan, dan manis pula. Paling tidak itu yang saya rasakan sampai saat saya membuat tulisan ini. Hehehe…
Saya masih berada dalam tahap mencoba untuk akrab dengan Ubuntu. Belum tahu banyak, dan sepanjang yang saya rasakan, sistem operasi ini cukup menyenangkan, dan mampu memberikan solusi terhadap pertanyaan dan keraguan yang sempat muncul.
Catatan: Saya sempat juga benar-benar bingung dan putus asa, ketika saya tidak bisa memutar film. Visual muncul, tapi suara tidak keluar. Sempat pula bingung karena tampilan situs yang saya lihat sedikit berbeda dengan biasanya (ketika melihat situs di Windows), yang ternyata gara-gara font tidak ada di Ubuntu. Ah, tapi itu beberapa hari lalu. Kalau sekarang, sudah ada VLC (atas informasi dari William Pramana), Amarok juga sudah ada. Beberapa font juga sudah disalin di ~/.fonts/.
Selamat datang Ubuntu!