Saya mungkin termasuk orang yang cukup jarang menonton televisi. Ya, kecuali acara-acara liputan khusus, berita, dan acara yang sifatnya informasi. Paling tidak acara tersebut jauh lebih memberikan manfaat daripada sinetron yang makin tidak jelas, daripada infotainment yang semakin mengada-ada. Entahlah, acara televisi (baca: televisi nasional) semakin tidak menarik saja. Mendingan juga nonton acara televisi yang menampilkan kehidupan flora dan fauna. Lebih jelas manfaatnya.
Beberapa hari yang lalu, untuk pertama kalinya melihat dengan sekilas acara Super Milyader 3 Milyar di ANTV, dengan host Dian Sastrowardoyo. Noton sekilas saja ketika mau bayar di kasir ketika makan bareng sama Lala. Sekilas, yang ada dalam pikiran saya, “Kok aneh banget sih?“. Saya pribadi tidak tahu apa hubungan antara acara Super Milyader 3 Milyar tersebut dengan Who Wants to be a Millionaire yang dibawakan oleh Tantowi Yahya. Yang pasti, secara konsep, mungkin mirip sekali. Dari yang saya lihat, yang jelas berbeda adalah kualitas host-nya.
Setelah melihat untuk yang kedua kalinya, untuk meyakinkan apakah pandangan awal saya tentang acara tersebut benar atau tidak (secara pribadi), kemarin saya melihat lagi. Dan, sepertinya memang ada yang kurang pas saja.
Okey, ini adalah beberapa yang saya liat. Well, I am not an expert on broadcasting, entertaintment, or TV show.
- Tone acaranya menjadi datar sekali. Apakah karena kita sudah terlanjur terbiasa dengan cara Tantowi Yahya membawakan acara Who Wants to be a Milionaire?
- Dian Sastro terlalu cengengesan. Menurut saya, dari materi acara yang disuguhkan, acara beberapa kata yang mungkin dapat dilekatkan dalam acara ini: smart, tricky, intimidating. Yang saya lihat justru sebuah acara yang penuh dengan canda, datar, dan tidak menarik. Apakah ini karena memang ANTV mengubah konsep acaranya? Atau, apakah bentuk kemasan acara sejenis yang sudah ada terlalu serius, sehinggal tidak menarik?
- Kostum yang dipakai Dian Sastro kok sepertinya aneh sih. Duh! Ya, maaf kalau misalnya memang itulah tren fashion saat ini. Saya tidak paham banget soal fashion, tapi saya melihatnya sepertinya kurang pas saja sih…
- Dian Sastro kurang memberikan “tekanan” (pressure is probbaly good in this kind of show). Terasa sekali bedanya dengan cara Tantowi Yahya menciptakan sebuah ‘konflik’.
Sekali lagi, apa yang saya sampaikan diatas adalah pandangan saya pribadi. Mungkin ada analisa lain yang lebih berbobot dari yang saya tulis. Well, just my $0.02.